Minggu, 16 Agustus 2026

Taman Hiburan (Dunia Fantasi)


Untuk cerita kali ini, kita akan membahas suatu tempat. Jika sudah membca judul, pasti banyak di antara kita sudah terbayang, bahkan mungkin pernah juga ke sana pada satu waktu. Taman Hiburan, alias satu kawasan yang memang diperuntukan untuk hiburan, hingga didatangi banyak pengunjung yang ingin berekreasi sejenak.

Ingatan langsung terbang menuju masa kanak-kanak, di mana tempat ini sudah cukup familiar sejak zaman bocah. Kala itu tentunya saya hanya berani menaiki permainan yang nyantai, dalam arti ramah untuk usia anak kecil. Di antaranya adalah Bianglala, Turangga Komedi Putar, Gajah Bledug, wahana yang sifatnya bergerak dengan pelan. 

Kala itu mata saya juga tidak lepas dari wahana yang bergerak cepat, salah satunya Kora-Kora yang bersebelahan dengan Bianglala. Suasananya terlihat seru dan menegangkan, karena teriakan dari pengunjung saling bersahutan, ketika menaiki permainan tersebut dan mulai dilempar satu arah itu. Dalam benak pastinya akan ada kesenangan tersendiri, meski kala itu belum ada nyali untuk bocah seusia saya.

Cerita langsung terbang ke masa remaja tua, alias usia2 baru lulus sekolah menengah atas. Kala itu rasa penasaran muncul lagi, untuk menaiki dua permainan yang sudah terkenal ekstrim di Dunia Fantasi, yaitu Kora-Kora dan Halilintar. Hingga akhirnya mencoba pertama kalinya, mengalahkan rasa takut, berganti menjadi keberanian yang menyenangkan.

Cerita berlanjut pada masa kuliah, dengan dompet keuangan yang masih terbatas, mencari cara agar mendapat harga hemat dan meriah. Pilihan dan beberapa kali dilakukan, yaitu dalam periode waktu puasa, karena tiket masuknya diskon 50%, hingga dimanfaatkan dengan baik oleh kami, serta pengunjung lainnya yang ingin melepas penat di sana.

Beberapa kali jalan bersama teman, baik dari kampus dan sekolah, bahkan jalan sendiri juga tidak masalah bagi saya. Hingga akhirnya kegiatan rutin itu agak terlupakan, karena munculnya kesibukan lain. Bahkan dokumentasi terakhir di sana itu, masih terdampar di halaman media sosial Facebook, jadinya sudah cukup lama juga tidak singgah lagi.

Cerita berlanjut lagi pada tahun lalu, karena baru teringat sudah lama tidak mampir lagi. Jadi untuk melepas penat, datang lagi bermain untuk menyegarkan pemikiran. Brekreasi dengan santai dan mempersiapkan dokumentasi terbaru, hingga ada pembaharuan kenangan untuk kegiatan di TKP Dunia Fantasi tersebut.

Salah satu senjata untuk kegiatan eksis tersebut, akhirnya saya menggunakan Kamera Aksi, untuk rekaman di permainan tertentu seperti Halilintar dan Kora-Kora. Tentunya ini sebagai bentuk aktualisasi diri yang terbaru, bukan hanya pose biasa saja, tapi memang ingin mencari sesuatu yang baru, merekam suasana dari POV pengunjung langsung, ketika menaiki wahana yang membangkitkan adrenalin dan teriakan.
Jakarta Dunia Fantasi & Thamrin Up

Saya datang dengan tiket harian, hingga slogan "Tidak Mau Rugi" tetap berlaku, dengan datang masuk sepagi mungkin, serta keluar semalam mungkin, kalau perlu hingga jam tutup. Tapi karena saya sudah menganut sistem wisata efisien, ketika sudah agak sore sudah selesai. Hari itu saya naik Kora-Kora sampai dua kali, sementara Halilintar bahkan hingga tiga kali, menjadi satu keseruan yang cukup dengan membuat kenangan baru di sana.

Cerita seru berlanjut ketika di bulan berikutnya, saya akhirnya membeli tiket Annual Pass, alias bisa masuk gratis selama setahun. Jadinya saya beberapa kali masuk, tapi tidak lama dan hanya sebentar, memainkan beberapa wahana saja dan langsung keluar. Tidak ada lagi istilah "tidak mau rugi" untuk beli tiket harian, karena pada dasarnya saya sudah mendapat keuntungan besar dari sana.

Andai masuk dan antrian permainan yang saya incar terlalu ramai, akhirnya dilewatkan dan bisa dicoba lagi di lain hari. Jadinya cukup santai selama jalan-jalan hiking di sana, menjadikan tempat itu sebagai arena berjalan kaki. Untuk sesi mencari adrenalin dengan teriakan, serta melepas penat untuk sementara waktu.

Plus baru sadar juga, saya belum punya kenangan khusus di TKP ini, dalam arti berpose dengan wahana permainan yang ada di sana. Hingga kesempatan "bebas masuk setahun" ini juga dimanfaatkan sebaik2nya, untuk eksis dengan ikon yang jadi kegemaran. Sekaligus menjadi simbol, ketika komposisi gambarnya saya pilih dalam bentuk tertentu.

Selama manfaatkan tiket gratis setahun ini, saya juga sudah tiga kali mengajak teman. Mungkin saja mereka cukup penasaran juga, atau sekadar mengisi waktu kosongnya. Tapi yang penting, ternyata ada keunikan terjadi di kesempatan bersama mereka, selalu ada "hal baru" yang akhirnya saya rasakan sebagai pengalaman.

Pertama itu ketika mengajak teman sekolah, yang bersangkutan tidak terlalu suka bermain di wahana yang ekstrim. Jadinya mengikuti gayanya saja, bermain santai di permainan untuk berhaha-hihi. Salah satu yang akhirnya saya coba pertama kali adalah Gondola, karena teman saya itu tertarik untuk menaiki ketera gantung tersebut. Posisinya sudah berada di luar pintu Dunia Fantasi dan tidak terlalu panjang, tapi cukup menarik untuk sekali-kali dicoba.

Kedua itu ketika mengajak teman kampus, oleh karena mengisi waktu di jam kosong menjelang akhir pekan. Masuk dengan suasana lenggang, tapi dibarengi dengan cuaca hujan, hingga banyak berteduh, sekaligus bermain di wahana indoor yang tersedia. Salah satu yang akhirnya saya coba adalah permainan Kereta Misteri, sebelumnya saya enggan karena selain ramai, ini masih rancu antara permainan thriller atau horror.

"Ini mah kaya Halilintar, cuman gelap aja" ujar teman yang diajak. Bahkan memberi perbandingan tempat wisata lainnya, punya kemiripian jenis permainan dengan meluncur di kereta dalam suasana gelap tersebut.

Ketiga itu ketika mengajak teman komunitas, secara spontan karena infonya meluncur mendadak di hari minggu. Ajakan yang disetujui oleh yang bersangkutan, karena sudah lama tidak singgah lagi di sana, berbeda dengan kawasan pantai Ancol yang sering didatangi olehnya. Salah satu permainan yang akhirnya saya berani coba adalah Baling-Baling, bedanya hanya saya sendiri saja, teman saya itu tidak ikutan.

Bahkan di bulan Agustus ini menjadi bulan terakhir, sebelum jatah berlaku tiket Annual Pass saya habis. Hingga akan saya manfaatkan dengan sebaik-baiknya, sebagai bagian dari mengambil penawaran yang dibuka oleh pihak Dunia Fantasi sendiri. Konon banyak juga pengunjung yang mengambil tiket jenis tersebut, tapi hanya untuk datang sekali saja, oleh karena belum ada rencana kedua dan seterusnya, atau banyak kesibukan lainnya.

"Iya yang model2nya kaya elo itu sedikit, gak semuanya bisa datang sering2" ujar salah satu teman. Berseloroh kalau dia ada di manajemen pihak Dufan, maka nama saya akan dicoret dan masuk daftar hitam, karena cukup sering mampir.

Bahkan jika saya bandingkan dengan tempat lain yang jenisnya sama, berupa Taman Hiburan dengan menyediakan beragam permainan, maka ingatan saya cukup tajam juga. Untuk lokasi di negara lain seperti Universal Studio Singapura, Genting Theme Park, atau yang lain, saya belum pernah main di sana, hingga tidak pernah ada foto saya dengan latar belakang simbol ikonik tersebut, Universal Studio Singapura misalnya.

Jadi itulah cerita seru mengenai Taman Hiburan ini, bernama Dunia Fantasi yang berlokasi di kawasan wisata Taman Impian Jaya Ancol. Cukup menarik ditunggu, atau boleh dicoba, untuk wisata murah meriah di dalam kota. :D