Rabu, 07 Oktober 2026

Wisata Transportasi


Untuk cerita kali ini, masih ada hubungannya dengan cerita ini, karena seperti melanjutkan dongengnya tentang tulisan Tiket Subsidi Murah. Bedanya untuk kali ini kita berfokus kepada pengalamannya, menggunakan tiket yang sudah kita beli tersebut, baik tarif promo atau yang berharga normal.

Pada kala itu saya baru agak "norak" dengan fakta, bahwa di rute tertentu jalur layanan KAJJ dari KAI, masih berlaku tarif subsidi PSO, alias tarif khusus yang mendapat bantuan dari pemerintah. Imbasnya susunan kursi yang tersedia model yang rapat, hingga perlu mengorbankan kenyaman penumpang. 

Untuk tulisan terdahulu itu, saya baru menjajal kereta dengan nama Serayu, sekaligus singgah di tempat yang sudah lama diincar ke Tasikmalaya sana. Sekaligus membuka celah, bahwa pengalaman perjalanan ini cukup seru juga diabadikan, hingga Video Trip saya ke Tasikmalaya Galunggung di sini, menyertakan momen dari saat saya berangkat, di dalam kereta, hingga sampai di stasiun tujuan, serta kembali lagi ke kota asal.

Kemudian di bagian bawahnya ada tambahan tulisan, mengenai sudah lamanya saya tidak melancong menggunakan pesawat terbang. Ada kerinduan tersendiri, untuk menikmati perjalanannya lagi. Hingga sempat mencari tujuan rute pendek, tentunya dengan tarif yang tidak terlalu tinggi, karena sifatnya lebih ke transit, untuk bolak-balik menikmati perjalanannya saja.

Pada akhirnya dengan berbagai pertimbangan, rencana wisata transit hanya menjadi wacana saja. Kenapa? Karena saya lebih memilih untuk sekalian berwisata penuh, langsung singgah di tempat wisata yang sudah terkenal ke Bali sana, karena memang masih ada beberapa tujuan yang belum saya singgahi. 

Khusus untuk edisi kali ini, ada juga bagian pengalaman di perjalanannya, berfokus di bandara dan pesawatnya, tidak hanya di lokasi wisata saja. Adegan pengambilan dokumentasi selesai di kota asal Jakarta.

Sepulangnya dari sana ada kepuasan tersendiri, hingga akhirnya tempat keberangkatan dan kepulangan juga mendapat porsi kenang-kenangan yang sesuai. Hingga ide untuk melanjutkan perjalanan ke tujuan "ulangan" lain terlintas, khususnya masih menggunakan moda transportasi jalur roda besi, alias KAJJ dari KAI dengan berbagai rute di dalam pulau.

Tujuan berikutnya ingin mengunjungi kembali daerah Purwokerto, sekaligus memperbaharui pengalaman berwisata di sana. Terakhir ke sana itu di tahun (2011), jadi sudah cukup lama berjarak lima belas tahunan, serta ada tujuan baru yang disinggahi. 

Karena merupakan Wisata Kilat hanya menginap semalam, dokumentasi Video Trip bisa disatukan semua, termasuk bagian keberangkatan dan kepulangan ke kota asal. Pergi menggunakan kereta Singasari, dengan tarif normal komersial. Sementara untuk kepulangan menggunakan kereta Bangunkarta, dengan tarif normal pula yang bersifat komersial.

Masih belum puas saya masih memilah-milah tujuan baru, atau "ulangan" yang masih menarik untuk dijelajahi. Hingga akhirnya memutuskan untuk berwisata lagi ke lokasi Papandayan, terakhir ke sana di tahun (2015) alias sudah sepuluh tahun jaraknya. Bedanya kali ini akan menginap dua malam, di malam pertama di kota Garut, sedangkan malam kedua akan kemping  bertenda di Papandayan sana.

Untuk keberangkatan saya akhirnya menggunakan tarif subsidi lagi, karena masih merupakan layanan PSO yang masih berjalan. Tapi fasilitas yang ditawarkan sudah lebih baik, tidak lagi menggunakan kursi tegak, melainkan model kursi Premium Ekonomi kala itu. Sementara untuk sekarang ini (2026), jenis kursinya sudah diubah kembali menjadi formasi 3-2 seat, tapi dengan kursi yang lebih lebar dengan nama kursi Ekonomi Kerakyatan.

Setelah pulang dari sana rasanya sudah cukup puas, tidak terlalu mengejar tujuan lain untuk disegerakan. Misalnya saya masih mengincar kota transit Tegal, sebagai daerah yang menarik untuk disinggahi. Dengan daerah Guci sebagai tujuannya, berlokasi di kaki gunung Slamet dengan udara sejuknya. Meski sekarang belum ada niatan untuk refreshing lagi, bukan tidak mungkin di lain waktu akan dijalankan incaran itu.

Cerita berlajut dengan adanya program promo dari maskapai penerbangan Citilink, kala itu mendapat tiket pergi ke bandara Changi. Hingga terbesit ide untuk melakukan perjalanan wisata transit ke sana, serta menjajal pula bandara Johor Bahru di Malaysia, berbatasan langsung dengan kawasan Singapura sana.

Sebuah perjalanan cukup kilat, karena hanya berdurasi tiga hari saja. Malam pertama sudah menginap di bandara karena sampainya jelang tengah malam. Sebuah perjalanan wisata kilat, sekaligus menjadi pemanasan, sebelum melakukan tujuan utama saya ke China di tahun ini. Sebuah tujuan yang sudah menjadi idaman saya sejak lama, karena mendatangi daerah dengan wisata alam yang tidak bisa kita temukan di kawasan Indonesia, atau lebih tepatnya di pulau Jawa ini.

Hingga akhirnya tanggal keberangkatan datang, dengan pengalaman yang serba baru untuk perjalanan saya di awal tahun ini. Menjadi wisata "salju" pertama saya, serta rekor suhu terendah pula selama ini, karena dilakukan di musim dingin di bagian bumi belahan utara. Incarannya memang yang dekat saja, masih di sekitar satu garis bujur yang sama dengan wilayah Indonesia, hanya berbeda satu jam saja zonanya (GMT +8).

Sebuah pengalaman yang cukup meriah dirasakan, tentu membawa perlengkapan yang cukup mumpuni secukupnya saja. Akhirnya mengetahui kondisi alam di sebuah tempat, yang selama ini hanya bisa dilihat dari visual saja. Kembali lagi bagian perjalanannya mendapat bagian khusus, dimulai dari keberangkatan hingga kepulangan ke Jakarta.

Tentunya kebiasaan ini menjadi cukup unik, karena baru saya sadari belakangan, alias di dua tahunan ini. Mengabadikan perjalanan tidak kalah seru ketimbang dengan tujuannya. Sesuatu hal yang berkebalikan di bidang lainnya yang juga penting, karena selama ini saya cenderung menikmati perjalanan, ketimbang fokus untuk sampai di tujuannya, mungkin saja situasi dan kondisi sekarang sudah akan berubah. :))

Plus belakangan saya juga mengikuti trend Add Sticker dari fasilitas Story IG, khususnya mengenai tema tertentu berfoto di bandara. Sekaligus baru menyadari ternyata foto saya di sana nyaris tidak ada, hanya ada satu di perjalanan "pertama" saya baik di tujuan dan video trip saya di sini, waktu itu ke Bali mandiri pertama kalinya bersama teman.

Akankah ini menjadi panggilan berikutnya? Eksis di moda transportasi masih jadi momen "mewah" bagi saya sendiri. Mungkin saja akan dilakukan, berangkat dari foto satu2nya saya di bandara itu. Jika dulu dilakukan bersama teman, bisa jadi akan ada perjalanan berulang, dengan tema yang sama dan subjek yang bisa berubah pula.

Ada yang bilang kita harus menikmati prosesnya, padahal sesungguhnya tujuan itu tetap penting. Seperti saya dulu yang sangat menikmati perjalanan, hingga lupa untuk sampai ke tujuan, karena memang tujuannya itu berupa perjalanan itu sendiri. Jika sekarang saya mulai mengabadikan perjalanan, secara otomatis akan ada tujuan yang memang kita bidik.

"Yah gue ngajak elo emank biar bisa fotoin gue sini..." ujar saya dengan tertawa, kepada teman untuk datang ke tempat yang sudah sangat familiar. Berlaku ke dua teman yang berbeda, masing-masing menjadi juru foto saya di dua TKP di bawah ini.