Rabu, 22 April 2020

eksplore Phuket Phang-Nga


Untuk perjalanan kali ini, sebetulnya sudah saya angkat secara singkat di sini. Tapi karena memang lagi ingin bercerita, jadi saya akan ceritakan pengalaman secara keseluruhan, khususnya untuk babak pertama di rute Phuket Phang-Nga ini.

Dulu saya juga pernah ke Phuket di sini, tapi rasanya belum puas karena waktu yang mepet. Total waktu itu hanya 3 hari, dengan hari pertama sampainya juga sudah sore hari, alias hanya punya waktu dua sepertiga hari saja. Tidak ada acara "menikmati" perjalanan pada kesempatan tersebut, karena hanya mengejar datang ke tempat wisata saja. Hingga akhirnya ingin saya ulangi kembali, dengan waktu yang lebih longgar di trip kali ini.

Perjalanan dimulai saat pagi hari sudah sampai di bandara Phuket, setelah bertolak dari KL pada tanggal 28 Maret 2019. Saya langsung keluar dari ruang kedatangan di bawah, untuk menggunakan minivan share-cost ke tujuan. Keberangkatan disesuaikan dengan jumlah penumpang sampai penuh. 

Oh iya untuk kali ini sepertinya kemajuan teknologi sudah sangat baik dan mudah, karena dengan sinyal Wi-Fi saja keberadaan kita sudah "ter-update" melalui aplikasi Maps. Untuk itu di perjalanan kali ini, akhirnya saya bisa cek-in perdana di luar negeri. Satu keisengan yang tidak bisa saya lakukan pada trip mancanegara tahun 2013 dan 2011 yang lalu. (Tidak apa norak sedikit). :P


Drama pertama sudah dimulai sejak akan berangkat dari bandara ini. Bermula dari sekelompok turis berbahasa india yang berceloteh, hingga supir minivan terlihat kesal, mungkin sedikit banyak mengetahui arti bahasa mereka. Si supir membuka pintu dengan kasar, melototi satu orang di kelompok tersebut dengan serius, bicara lantang dengan gelagat ingin mengusir orang itu dari mobilnya.

Drama lanjutannya adalah saat minivan berhenti di salah satu tempat, hingga masing-masing penumpang memberitahu tujuan akhir pemberhentinya. Sekaligus ditawari berbagai tour travel yang tersedia di sana. Datang ke sana berbarengan dengan beberapa minivan lain, ternyata minivan kami jadi yang terakhir menunggu, bahkan tetap belum jalan setelah beberapa lama.

"Sengaja ini dilama-lamain" ujar penumpang di sebelah saya. Bicara dengan bahasa Melayu dan mungkin saja berasal dari Malaysia.

Setelah menunggu agak lama giliran penumpang Barat yang duduk di depan menggerutu. Sempet meledek ketika menanyakan keberadaan supirnya ke orang di sana, apakah supirnya sedang ketiduran? Langsung bicara dengan nada marah ketika supir ingin berangkat, karena hanya punya waktu 3 hari di Phuket. Hingga perjalanan menjadi terlihat tegang, antara supir, penumpang Barat di depan, serta sekelompok turis berbahasa India di baris kedua.

Saya duduk di baris ketiga, bersama penumpang Melayu hanya tersenyum saja melihat keadaan tersebut, pada utamanya ketika hendak berangkat dari bandara saat ketegangan dimulai. Kemudian ada pula penumpang Barat lainnya di baris keempat dan kelima. Tempat yang diantar pertama kali adalah penumpang di baris kelima, kemudian yang kedua saya sendiri berhenti di dekat pusat Patong. Cerita selanjutnya tentu saya tidak tahu, bisa jadi si supir balik mengerjai mereka dengan mengajak mutar2 dahulu. Xp

Pada saat sampai di penginapan, saya baru bisa menggunakan kamar selepas jam 2 siang. Hingga hanya menitipkan tas di sana. Kemudian mulai jalan-jalan dengan menyewa motor matic di seberang penginapan, karena sudah ditawari dulu oleh pemiliknya, saat sedang mencari lokasi penginapan. Memang sudah diatur untuk langsung jalan-jalan pada waktu jelang siang tersebut, kira-kira pukul 10 pagi.

Tujuan pertama saya adalah mendatangi Big Buddha (lagi), dengan jalan ke arah selatan dan berbelok ke arah timur di sekitar wilayah Karon. Saya juga sudah menghafal posisi jalan dari Maps, dengan melakukan beberapa screenshoot di lokasi yang berbeda. Mengandalkan insting dari peta yang mulai "tergambar" dalam ingatan. Andai gambaran sudah mulai kabur, maka data screenshoot peta yang sudah tersimpan di HP dibuka kembali. :P

Siang itu kawasan Big Buddha sangat terik dan panas. Kemudian kuil yang pernah eksis di bagian depannya sudah direnovasi, berganti menjadi susunan tangga yang lebih menyesuaikan keadaan lapangan sebagai tempat wisata.

Sengaja berlama-lama di sana dan mencari tempat teduh, karena ingin mengulur waktu sampai jam cek-in penginapan. Hingga selepas tengah hari mulai bertolak dari sana, menyusuri jalur yang menuju pusat kota Phuket, sekaligus mengingat sekilas sikon di sana, karena saya akan bolak-balik selama empat hari di sana.

Untuk menuju di daerah pesisir barat pulau Phuket, rata-rata jalur yang harus dilalui adalah melewati bukit. Khusus untuk daerah Patong semua aksesnya juga harus melewati bukit, baik dari pusat kota di sebelah timur, dari Kamala sebelah utara, juga menuju Karon di selatan. Hingga pada hari itu saya benar-benar "menjelajahi" Phuket, karena pasti ada perbedaan antara jalan dengan kemudi sendiri, atau sekadar menjadi penumpang dan "disupiri" orang lain. Xp

Pukul 2 siang saya kembali ke penginapan dan beristirahat sejenak, kemudian pukul 3 sore sudah keluar lagi. Kali ini tujuan saya adalah menuju Promthep Cape (lagi), karena sudah pernah ke sana juga, bedanya kali ini saya datang sendiri. Kemudian sempat pula mampir di Karon Viewpoint (lagi) sebentar, kemudian lanjut ke tujuan utama yang berada di ujung selatan pulau.

Suasana di Promthep Cape masih belum berubah, hingga saya turun ke bawah sampai batas semenanjung di sana. Banyak turis yang menunggu momentum sunset di sana, tapi sebelum pukul 6 sore saya sudah kembali.

Selanjutnya saya tidak kembali melewati jalur yang sama, karena saya lebih memilih memutar ke pusat kota. Daerah di ujung selatan ini masih berada di atas bukit, hingga jalurnya naik dan turun beberapa kali. Kemudian kondisi jalan mulai landai saat memasuki daerah Rawai, sebagai salah satu zona wisata juga karena banyak penginapan dan cafe berdiri di sana.

Mengikuti jalan hingga berbelok kembali ke arah utara. Dari sana zona wisata mulai menghilang, berganti menjadi wilayah pemukiman biasa. Banyak kaki lima yang menjual makanan, tapi bukan model kedai makanan bertenda yang banyak kita jumpai di Indonesia. Xp

Hingga bertemu dengan perempatan jalan yang sama, ketika menuju Big Buddha pada siang harinya dari arah Karon. Memasuki pusat kota saat petang hari berganti menjadi gelap, sengaja ingin tahu bagaimana suasana di sana. 

Sempat ingin membeli makan malam di daerah Phuket Town, tapi keadaan di sana cenderung sepi, meski banyak kendaraan berlalu lalang di sekitar. Warga di daerah sana tidak mengerti bahasa inggris sama sekali, saat berhenti di jalanan kaki lima, yang menyajikan aneka cemilan layaknya penjual kue. :D

Hingga akhirnya karena sudah lapar, saya langsung kembali ke daerah Patong, mulai hafal jalan pula. Salah satunya dengan bercokolnya Central Phuket, sebagai patokan bangunan Mal di persimpangan tengah kota. Mengisi penuh kembali bensin, sebelum mengembalikan motor, karena hanya saya sewa sehari saja. :P

Malam itu mulai jalan-jalan di sekitar penginapan, yang sangat dekat ke jalan Bangla sebagai satu kawasan wisata malam. Langsung mengambil tour James Bond untuk keesokan harinya, di tempat kios kecil tepat di pertigaan jalan Bangla, tempat berdirinya lampu lalu lintas untuk penyeberangan orang.

"You tidak bisa kalau mau mutar2 bandingin harga dulu. Ok gue kasih harga segini, ambil atau tidak?" ujar si pemilik kios. Berbicara dengan bahasa inggris ala kadarnya, serta mengambil kembali brosur yang saya lihat kembali ke tempatnya.

Maksudnya kalau saya mau mutar2 cari harga termurah, nanti jalan balik lagi ke sini. Hingga bapak2 itu langsung memberi harga pas, cukup jauh dari harga pembuka, serta agak mahal sedikit dari perkiraan harga yang saya tawar, meski sebetulnya tidak ada persiapan juga, karena tidak tahu berapa harga pasarannya.

Kelihatannya memang si bapak itu tidak bermain harga, terlebih saat mengetahui saya berasal dari Jakarta, hingga langsung saya setujui, memberi kepercayaan penuh kepada beliau. Mungkin dipengaruhi juga dengan kemampuan ekonomi, hingga mulai cincai, tidak terlalu irit (banget) seperti kedatangan saya di tahun 2011.

"Oke setuju yah, besok dijemput pukul sekian. You jangan banyak tawar2, soalnya suasana di sini juga sudah bising sekali" lanjutnya kembali, menunjuk sekeliling kiosnya yang memang sangat ramai, secara terletak di pertigaan jalan Bangla yang ramai itu.

Awalnya juga ingin membeli paket tour island lain di hari ketiga, tapi pilihan rute yang ada tidak semenarik dua tujuan utama mereka, yaitu Phi Phi dan James Bond. Karena untuk Phi Phi sudah dua kali ke sana, jadi niat itu diurungkan, lebih baik bermain pantai di pesisir Phuket yang tidak kalah menggoda.

Selanjutnya saya mulai eksplore (lagi) daerah sana, merekam dokumentasi video untuk kenang-kenangan. Suasana jalan yang belum berubah, meski untuk cafe di kanan kirinya pastinya sudah banyak perubahan. Kemudian baru membeli makan malam di Pasar Malam Banzaii, cukup murah untuk aneka lauk pauk, serta Nasi Goreng, Mie Goreng atau Pad Thai Goreng sebagai makanan pokoknya. Disajikan dalam wadah yang bisa dipilih, serta langsung dibungkus ala penjual nasi uduk di Nusantara. :9

Esoknya dijemput oleh minivan untuk tour ke James Bond Island, hingga menyusuri pulau Phuket agak ke utara, kemudian berbelok ke arah timur. Salah satu patokan adalah berdirinya tugu yang khas di tengah perempatan jalan besar, berupa patung dua orang berdiri. Belakang saya search bernama monumen "Thao Thep Kasattri Thao Sri Sunthon."

Tour James Bond Island menggunakan kapal berjenis big boat, hingga memuat penumpang lebih banyak di deck atas, sementara di deck bawah jadi dapur dan tempat kru kapal. Saya juga baru tahu bahwa posisi pulau James Bond itu mendekati daratan Thailand, hingga selama tour ke sana perairannya cukup tenang.

Tujuan pertama itu singgah di sebuah pulau tebing saya lupa namanya, semua peserta bersiap untuk menggunakan kayak. Sebuah pengalaman yang memang tidak biasa. Satu kayak dikayuh oleh kru kapal, serta bisa memuat sampai tiga orang. Untuk masuk ke dalam pulau tebing, maka kita akan mengayuh kayak di lorong tebing sempit. Yang katanya jika menjelang sore lorongnya akan tertutup, karena air sudah naik pasang. Ditunjukkan pula bekas garis air sebagai batas tingginya.

Di dalammya hanya berupa kolam yang cukup luas, atau bentuknya menyerupai lagoon, meski sumber airnya menyatu dengan lautan di luar pulau, bukan seperti danau pada umumnya yang berair tawar. Menjelajah dengan kayak ini cukup menarik, menjadi pengalaman yang tidak pernah saya duga, karena saya mengira tour-nya hanya mengunjungi pulau dan pantai seperti biasa.

Selepas dari sana kami menuju perhentian kedua, sambil diselingi dengan acara berenang dan snorkeling untuk peserta kala kapal berhenti. Pada tempat kedua ini tiap peserta akan menyusuri jalur kayak yang lebih panjang.

Jatah naik kayak dibagi menjadi dua bagian, dengan nomor urut yang didapat tiap peserta. Lima belas angka pertama, dan lima belas angka berikutnya. Jika pada pemberhentian pertama saya mendapat giliran kedua, maka di tujuan kedua ini saya mendapat giliran pertama. 

Kami memutari lorong pulau tebing, untuk menjumpai tebing James Bond versi "lebar" atau "gemuk." Di sana kami banyak membaur dengan peserta dari tour lain, dengan warna kayak dan warna kaos kru kapal yang berbeda. Hingga akhirnya kelompok kedua mendapat giliran kayak, menunggu dengan hidangan makan siang yang sudah siap di atas meja.

Acara makan siang dilakukan dengan kapal yang bergerak ke tujuan akhir, menuju tebing James Bond Island versi "langsing" yang asli. Kami turun di pulau Khao Ping Khan, sebagai lokasi terdekat "memandang" ikon tempat wisata tersebut. Secara ikon yang dituju itu memang hanya berupa tebing, tidak bisa dijelajahi, karena lebarnya hanya beberapa meter saja. Mungkin bisa saja dinaiki oleh pemanjat tebing sampai atas. :P

Kemudian acara tour hari itu selesai dan kami kembali. Lalu malamnya saya makan lagi di Pasar Malam Banzaii, kali ini mencoba Pad Thai yang dimasak langsung di tempat sebelum dibungkus. Saat akan menyantapnya di penginapan terasa sangat nikmat menggoda, hingga saya sempat mengabadikannya sejenak. Rasanya memang enak dan maknyuss, berbeda dengan Pad Thai sehari sebelumnya, karena sudah matang dan hanya dihangatkan sebelum dibungkus.

Esoknya saya menyewa motor di rental sebelah penginapan, langsung ambil 2 hari hingga kepulangan saya satu hari kemudian. Acara di hari ketiga hanya ingin bermain pantai saja, kali ini menuju Karon yang punya garis pantai luas, serta ombak yang lumayan kencang, bermain basah-basahan sepuasnya. 

Saya lebih memilih sisi pantai di bagian tengah, yang lebih sepi, serta banyak berdiri resort dan hotel di sisi jalannya. Sementara untuk bagian ujung, baik di sebelah utara dan selatan, pasir pantainya lebih lebar, dengan sisi jalan yang punya fasilitas lebih umum, ada toko dan penginapan2 lain.

Kemudian menjelang siang bergerak ke arah utara, melewati pesisir Patong dengan jalan yang agak menanjak lagi. Menuju daerah Kamala dan sedikit menjajal pantainya, karena kondisi badan juga masih basah-basahan (sengaja). Di sana sekaligus memantau TKP Phuket Fantasea, karena ada niatan mampir ke sana pada malamnya, ingin datang menggunakan motor sewaan tersebut.

Setelah itu kembali menuju utara lagi, untuk sampai di Pantai Surin, sebagai lokasi baru yang mulai terkenal juga di sana. Bermain pantai kembali di bawah terik matahari, hingga kaos yang basah kuyup langsung cepat mengering lagi. Santap siang di pinggir pantai, hingga kembali ke Patong menjelang sore.

Pada sore hari itu saya langsung bergegas ke Agen Tour di kios kecil lagi, tempat saya membeli tour James Bond kemarin harinya. Membandingkan harga tiket Phuket Fantasea yang ternyata lebih murah jika beli di Agen ketimbang Go Show, setelah mencari info di internet. Awalnya ingin datang ke sana dengan motor, karena siangnya sudah memantau lokasi. Tapi oleh si bapaknya dibilang akan dijemput (lagi) dengan minivan, karena akan bareng peserta lain yang juga sudah membeli tiket.

Phuket Fantasea adalah sejenis arena hiburan, tapi dengan sajian utama berupa pertunjukkan di aula utama. Bukanya juga saat menjelang petang, hingga acara show selesai di malam hari. Pertunjukan utama dimulai pukul 9 malam, dengan aturan ketat tidak boleh bawa kamera ke dalam dan harus dititipkan. 

Sebuah jenis wisata yang "akhirnya" bisa saya nikmati, berupa show dan sejenisnya untuk mengisi waktu, selagi jalan ke sana juga lebih tepatnya. Kumpulan Gajah naik ke atas panggung, disertai cerita sejarah bangsa Thailand, serta bangsa Kamala secara khusus. Hingga acara selesai dan kembali ke penginapan dan beristirahat.

Esoknya menjadi hari terakhir, kemudian pagi-pagi sudah keluar untuk bermain pantai (lagi). Kali ini sampai ke pantai Kata, serta mampir kembali di pantai Karon, sebelum kembali ke penginapan untuk bersih-bersih dan bersiap. Menjelang siang sudah cek-out dan menitipkan tas kembali, kemudian mulai jalan-jalan lagi.

Awalnya ingin menyusuri pesisir pantai Patong sampai ujung selatan, dengan jalan yang agak naik ke bukit. Oleh karena menemukan ada tujuan lain "Paradise Beach" dari Maps, tapi ternyata lokasi itu berupa pantai resort, bukan pantai umum yang bisa bebas dikunjungi. Hingga kembali dan bisa melihat panorama Patong dari kejauhan, dengan satu-satunya gedung hotel yang menjulang tinggi di tengah, bernama The Royal Paradise Hotel, terletak tidak jauh dari penginapan saya.

Kemudian selepas siang jalan-jalan lagi, memutar kembali melewati jalur Karon sampai Promthep Cape, serta melewati Rawai kembali dan memutar sampai Mal Central Phuket dan mampir di sana sebentar. Kemudian menyusuri jalan lanjutan ke arah utara, hingga melewati lokasi wisata The Upsidedown of Phuket, tapi saya tidak mampir ke sana, karena hanya berupa jenis wisata selfi saja. Xp

Jalur yang dilalui akhirnya bertemu dengan jalan utama Phuket, mungkin bisa disejajarkan dengan jalan by pass. Tetap melaju hingga ke utara, hingga bertemu dengan perempatan Tugu Patung Dua Orang yang dua hari sebelumnya dilewati. Kemudian berbelok ke kiri ke arah barat, dengan kondisi jalan yang lebar dan lenggang, sekaligus terik. Hingga berhenti di gerai mini market yang berukuran cukup besar, ngemil mi instan seduh di sana.

Perjalanan dilanjutkan dan jalur itu mengarah ke Pantai Surin, sebagai daerah wisata baru dengan berdirinya banyak penginapan. Saya hanya sekadar lewat saja di sana, kemudian melewati Kamala dan kembali ke Patong jelang sore. 

Karena waktu masih cukup panjang, akhirnya saya santap siang, serta mengisi waktu ingin mencoba Thai Massage, banyak bertebaran di sana. Tapi saya memilih lokasi yang ada di seberang Mal Jungceylon. Ternyata hanya berupa pijatan refleksi saja, beda dengan pijatan urut. Kalau dibandingkan pijatan lokal Nusantara tetap lebih baik, lebih kencang juga , serta ada fitur tambahan kerokan andai sedang tidak fit. :P

Menjelang petang kembali ke Pantai Patong untuk menikmati suasana, bedanya saya sudah tidak ingin berbasah-basahan lagi. 

Hingga pada pukul 8 malam saya mengembalikan motor sewaan, serta mengambil tas untuk kembali. Kali ini saya menuju airport dengan menaiki shuttle bus, tersedia melewati beberapa zona wisata. Untuk di daerah Patong, maka bus akan berhenti di ujung jalan Bangla yang dekat ke pantai.

Sesampainya di bandara, beberapa penumpang bermalam di hotel dekat sana. Satu pilihan yang sempat ingin saya lakukan juga, karena penerbangan saya itu esok paginya. Tapi jika melihat efisiensi waktu dan sisi kepraktisan, akhirnya saya memilih bermalam di bandara.

Awalnya di pukul 9 malam suasana ruang keberangkatan sangat padat dan ramai. Hingga saya memilih menunggu di ruang kedatangan di lantai bawah, di sana banyak tersedia kursi meski sudah terletak di luar ruangan. 

Pukul 11 malam kembali naik ke atas, ternyata suasana sudah mulai lenggang, hingga bisa memilih kursi yang banyak kosong untuk selonjoran sejenak. Memejamkan mata dua sampai tiga jam cukup membuat tubuh kembali segar, tidak sering juga lagipula. :D

Hingga hari esok menjelang bersiap kembali ke KL, selesailah wisata Phuket saya kali ini.