Sabtu, 04 Mei 2024

Bayangan Lokasi


Untuk cerita kali ini, kita akan mengupas tentang sebuah adegan khusus. Apaan tuh memangnya? Ada aksi bela diri? Atau ada percakapan ala sinetron? Bukan, karena jawabannya adalah adegan yang ada dalam imajinasi kita sendiri, sudah ada bayangan?

Imajinasi adalah sesuatu yang kita buat di dalam layar pikiran kita, sebuah anugerah bagi kita manusia sebagai ciptaan yang paling sempurna dan segambar. Artinya kita bisa menciptakan dunia khayalan di setiap masing-masing kita, ini adalah sebuah teknologi yang tidak akan bisa ditandingi hingga sekarang, setuju?

Jadi untuk tema ini kita akan membicarakan sebuah lokasi, sebagai contoh bahasan utamanya. Sesuai dengan judul berbunyi Bayangan Lokasi, kita perlu berusaha "menggambarkan" keadaan sebuah tempat, karena memang kita belum pernah ke sana sebelumnya. Kemudian dan kembali lagi, lokasi wisata akan menjadi ujung tombaknya, sesuai dengan kapasitas penulisnya yang gemar berwisata.

Bahasan ini juga berkaitan dengan dunia tulis menulis, pada khususnya dunia novel atau fiksi. Pada dahulu kala, ketika saya masih suka dan berusaha menulis buku, tentu berbagai tekniknya juga saya pelajari. Pastinya saya adar ingin punya ciri khas tersendiri, membedakan dari penulis lainnya, hingga punya teknik (modifikasi sendiri).

Mengenai teknik ini juga dijelaskan dengan baik oleh DJ Tiesto, bedanya dia berbicara mengenai dunia musik elektronik, sesuai bidangnya menjadi komposer musik. Salah satu wejangannya adalah, kita bisa belajar dari banyak panutan, membandingkan karya mereka, serta melihat selera pasar, hingga dari sana kita bisa membangun karya dengan gaya sendiri.

Salah satu penulis panutan saya adalah Paulo Coelho, karena karyanya mengalir sedemikian rupa. Apalagi salah satu bukunya yang berjudul Sang Alkemis, di sana beliau tidak menggambarkan secara jelas tempatnya, tapi hanya menceritakan pergerakan sang tokohnya saja, hingga imajinasi kita terbangun dengan sendirinya.

Secara tidak sengaja, belum lama ini saya juga membuka cerita singkatnya di Twitter. Kemarin menyertakan penulis besar yang dimaksud, beliau menulis tentang perjalanan di awal karier kepenulisan. Hal itu memancing minat saya, untuk melakukan hal serupa, tapi hanya sekadar membuka minat awalnya saja.

Sedikit kita intip juga sedikit aturan yang berlaku di sana, bahkan sudah jadi jargon umum di dunia penulis (fiksi).

Show = Don'tell
(Tunjukkan = Jangan beritahu)

Artinya penulis harus menggambarkan keadaan di dalam ceritanya. Tujuannya? Agar pembaca bisa membayangkan dengan mudah, latar belakang apa yang diceritakan oleh penulis. Apakah itu baik? Jawabannya tergantung masing-masing dari kita, bagi saya sendiri jadi agak memaksa, karena justru kita membatasi imajinasi dari para pembaca.

Tell = Don't show
(Beritahu = Jangan digambarkan)

Saya lebih suka dengan jargon sebaliknya, tunjukkan dan ceritakan, tidak perlu digambarkan secara rinci. Jadinya para pembaca tidak bisa membayangkan keadaan di cerita donk? Yah itu kembali lagi, tergantung masing-masing dari mereka, apakah punya daya imajinasi yang baik atau tidak. Ketimbang membuang kalimat yang tujuannya deskritif, lebih baik menggunakan kalimat untuk tujuan konstruktif. 

Kembali ke cerita utama kita, saya ingin bahas sebuah pengalaman singkat, tapi bisa membangkitkan bayangan kita secara kuat. Bagaimana tuh memangnya? Misalnya seseorang sekedar memberitahu, di sana ada toko A dan B, sesederhana itu dan ternyata bisa memantik daya khayal bagi pendengar atau pembaca.

Ingatan langsung terbang ke waktu trip saya ke pulau Phi-Phi, dengan berangkat dari wilayah Krabi, langsung menyeberang setelah mendarat dari penerbangan Bangkok. Nah dari sana saya naik taksi share-cost, sebuah minivan yang menampung seluruh kursi, khusus untuk turis. Sebelum ke tujuan utama, maka kita akan dioper ke satu titik, untuk menyambung angkutan lainnya.

"You stop di Krabi Center, nanti di sana ada McDonald dan bla bla bla sebelahan..." ujar seseorang yang bertugas di sana, dalam bahasa inggris. Menerangkan kepada turis harus ke arah mana, setelah yang bersangkutan akan pergi dan tiba di Ao Nang, sebuah tempat wisata terkenal di Krabi.

Ketika mendengar hal tersebut, saya seperti langsung bisa membayangkan tempat tersebut. Bukan lagi sekadar khayalan belaka, tapi seakan-akan tampak hidup, hingga kita bisa merasakan sedang berada di sana. Padahal kala itu saya tidak ada tujuan ke sana, meski memang ada juga keinginan "sangat kecil" untuk singgah di sana.

Kejadian itu cukup unik dan jarang terjadi, saat seseorang secara asal memberitahu tentang satu tempat, ternyata kita bisa masuk dalam imajinasi yang sangat nyata. Mungkin saja sekadar de-javu bagi saya sendiri, karena pengalaman itu tidak lagi saya rasakan di lain waktu, atau di lain penjelasan tentang tempat lainnya.

Sampai akhirnya belum lama ini, pengalaman itu saya rasakan. Seperti masuk dalam satu titik, menuju tempat yang dibahas secara nyata.

"Kalau ke situ mampir di Wayang Windu biasanya" ujar salah seorang kurang dan lebih. Ketika kami sedang membahas tujuan wisata Pangalengan dalam sirkel kecil, berupa perjalanan wisata yang ditawarkan oleh biro jasa open trip.

Saat itu saya juga seperti langsung merasakan hal yang sama, seakan-akan sedang berada di sana. Ingatan tentang cerita Ao Nang tadi muncul kembali, hingga saya juga menyadari sisi ilmiahnya, kenapa hal itu bisa terjadi. Sekaligus menjadi bahasan utama di cerita kali ini.

Kenapa bisa begitu? Yang paling masuk akal adalah penceritanya sudah mengalami secara langsung. Alias mereka sudah berada di sana sebelumnya, menjadi saksi hidup dari apa yang dilihatnya di tempat tersebut. Artinya jika ingin mendapat sesuatu yang kuat dan meyakinkan, kita harus mendengar celotehan khusus, dari mereka yang sudah mengalami secara langsung. Sebuah pengalaman berharga mahal, bahkan tidak dapat diganti oleh sekadar punya wawasan, karena mengalami langsung itu sangat penting.

Belakangan yang juga baru saya sadari, ternyata dari kitanya sendiri ada minat tentang tempat tersebut, entah rasa penasaran atau memang berminat ke sana. Jika kita tidak ada rasa antusias tentang hal yang dibahas, maka pengalaman saksi hidup tidak akan menembus pikiran, karena bawah sadar kita sendiri telah menutup aksesnya.

Saya juga mengingat pula, untuk kegiatan berwisata ini pernah menceritakan hal sejenis. Berlaku kepada mereka yang belum pernah ke sana, tapi ada minat yang muncul, hingga obrolan mengalir sedemikian rupa.

"Ke Dieng sih saya jalannya sendiri. Nanti naik Sikunir tidak sampai setengah jam, jalannya sudah bagus seperti ini" ujar saya, menunjuk trotoar yang ada di sektar kami. Menerangkan kepada mereka yang punya minat ke sana, tapi masih memilah-milah, apakah akan ikut jasa open trip atau tidak.

Jadi untuk Bayangan Lokasi ini cukup ringan bukan pembahasannya, hanya menekankan tentang minat kita. Kemudian kita bertanya-tanya pada mereka yang punya pengalaman, hingga punya sudut pandang nyata, hingga kita kurang lebih seperti mengalami, meski belum melakukannya dalam realitas.

Kemudian kita juga bisa mengambil peran yang sama, saat kita sudah mengalami, kita akan menceritakan pengalaman itu kepada mereka. Mungkin saja mereka akan mengalami pengalaman yang serupa, karena mendengar kita yang sudah berada di sana secara langsung. Kita adalah sesuatu yang kita bagikan, masih terdengar kuat menancap hingga sekarang.

Bayangan Lokasi? 
Itu karena kita belum pernah ke sana.
Jika sudah ke sana? 
Sudah nyata, bukan bayangan lagi.