Sabtu, 15 September 2018

Suasana Nginep




Pada kesempatan kali ini, saya masih ingin cerita tentang menginap. Belum lama ini sudah mengangkat cerita serupa, tentang menginap yang tidak biasa di sini.

Menginap itu idealnya berada di hotel, karena pilihan layanan jasa ini yang paling umum tersedia. Tingkatannya dibedakan dengan berapa banyak bintang yang melekat. Pastinya kenyamanan yang didapat akan maksimal, apalagi jika dikelola oleh jaringan nama besar yang sudah identik. Bahkan sebetulnya dengan fasilitas yang disediakan, kita bisa saja menganggap hotel sebagai satu jenis "wisata" untuk sedekar rileks.

Rabu, 05 September 2018

Menginap (Tanpa) Kasur




Menginap arti dasarnya (bagi saya) kegiatan tidur di luar rumah, karena tidak mungkin kan? Andai kita tidur di rumah atau tempat sendiri bilangnya menginap. :P

Pada kesempatan ini, saya ingin mengangkat satu cerita, atau pengalaman lebih tepatnya. Alasannya judul sejenis tentang menginap tidak "normal" ini sudah cukup umum, tidak sulit kita temukan di mesin pencari, andai ingin mencari referensi tidur di Bandara, Terminal, atau Mal sekalian mungkin. Xp

Selasa, 17 April 2018

(Drama) Naik Gunung



Cerita ini melupakan "lanjutan" dari pengalaman di sini, tapi lebih tepatnya melengkapi, karena dari urutan waktu adalah bagian awal, seperti babak pertama yang baru diangkat. :)

Saya dan satu teman akhirnya ikut satu acara pendakian gunung, sistem patungan lebih tepatnya. Jadi bukan ikut travel atau tour yang sudah professional dan ternama, tapi lebih kepada mengikuti ajakan yang dilayangkan oleh sebuah kelompok perjalanan. Istilah yang terkenalnya itu share cost, tapi mengingat ini bukan jalan-jalan biasa, jadi memang ditemani oleh orang yang memang sedikit banyak tahu tentang pendakian gunung, berikut segala tetek bengek aturannya. :)

Lambat (Asal) Aman


Cerita ini masih ada hubungannya dengan pengalaman di sini.

Waktu itu saya menganggap seorang teman sebagai pengganggu, karena jalan lebih lama. Menunggu dan menemani teman yang kakinya sakit. Jadi mau tidak mau berjalan santai, hingga menyimpan rasa penasaran yang tinggi untuk kembali ke sana (Jalur Pendakian Gunung Gede), ingin melaju cepat sendirian sesuai dengan rencana awal. :)

Minggu, 16 April 2017

Dua Jalur Paskah (KW Super)


Ada yang menganggap kita sama, padahal sangat jauh berbeda.
Ada juga yang menganggap kita beda, padahal kita sama.
Kok jadi terbolak-balik? Jawabannya memang sudah begitu.
Kenapa tidak diluruskan? Tidak perlu, akan ada waktunya.


Paskah versi penulis sudah ada di sini. Ini kelanjutan dari cerita dengan semangat memerangi pembajakan sejarah. Tokohnya ada Sus, kaumnya Yahut, terus pemerintahannya Romo. Jadi memang dibuat singkatan saja, untuk menunjuk tanpa menyebutkan secara lengkap identitas aslinya.

Sus adalah tokoh sentral dalam cerita Dua Jalur Paskah ini, setelah yang bersangkutan mengalami kejadian tidak mengenakkan, tapi harus dilakukan karena tugas yang diemban. Sebuah peristiwa yang besar yang terjadi di daerah kecil, di wilayah Timur tengah sana, hampir dua puluh abad yang lalu.

Sus wafat di atas simbol setempat, oleh warga Yahut dari kaumnya sendiri. Nah dari sini sebuah cerita mulai mengalir bercabang-cabang, melibatkan tiga pihak kala itu, yaitu warga Yahut yang pro dengan Sus (yang bersembunyi), kemudian warga Yahut yang kontra dengan Sus, hingga ikut berteriak pada saat penghukuman, serta otoritas Romo yang memegang pemerintahan di daerah itu.

Sabtu, 14 Januari 2017

SARA + RASIS



Dulu sekali singkatan SARA yang saya tahu adalah Suku, Agama, Ras dan Antar Golongan.
Apakah itu benar? Yang rancu di sini adalah Antar Golongan, golongan mana? Apakah perbedaan latar belakang pekerjaan atau profesi seseorang? Hingga berujung pada golongan kelas atas, menengah (ngehe) dan bawah? Sepertinya kurang tepat.

Kamis, 05 Mei 2016

Jalan Sendiri



"Jalan sendiri? Serius?!"

Pada cerita kali ini, sesuai judulnya saya akan mendongeng tentang jalan sendiri, tapi bukan ingin membahas sisi asyiknya. Seperti yang sudah saya lihat dari banyak tulisan lain, pada utamanya dari mereka yang masih enjoy dengan cerita perjalanan wisata dan sejenisnya.

Jalan sendiri sebetulnya sudah jadi default di kepala saya, tapi baru terlihat ketika mulai gandrung dengan hobi jalan2 wisata dahulu disini. Mungkin sebagian dari kita menganggap pembawaan yang seperti itu aneh, sombong karena tidak membutuhkan yang lain, tapi lebih tepatnya tidak ingin merepotkan dan direpotkan oleh yang lain. :D

Sabtu, 06 Februari 2016

Ada yang lain?




Pada zaman informasi seperti ini banyak dari kita yang "melek", dalam artinya segala sesuatu sudah bukan misteri lagi, karena sudah ada ukuran2 yang bisa dipakai. Semua itu berhubungan dengan ilmu pengetahuan yang berkembang, hingga punya dasar yang kuat dari segi pembuktian dan pengalaman sekaligus.

Di antara sekian banyak percabangan ilmu, dunia Psikologi cukup menarik perhatian saya hingga sekarang. Meski pada kenyataannya terlalu banyak teori dan istilah asing di dalamnya, namun secara pengertian awam ternyata bisa lebih menyenangkan ketimbang yang lain. Mungkin alasannya karena kita mempelajari seluk belum kepribadian seseorang, hingga secara ideal tidak punya batasan. Tapi tentunya itu kembali pada minat kita masing-masing, ada yang suka itu, ternyata itu kurang disukai oleh yang lain, intinya selera orang berbeda-beda. :)

Mata-Mata




Dalam satu peristiwa terdapat beberapa bagian yang menjalankan tugas, bisa berbarengan atau bergantian, tergantung dari waktu "office hour" dari sifat tugasnya sendiri. Kalau diibaratkan dari tubuh manusia, bagian apa yang paling menyenangkan? Apakah jadi ekor dan bukan kepala? Memilih jadi kaki tangan, atau mata telinga dan yang lain?

Pada era sekarang di dekade kedua abad dua puluh satu, sebuah tren untuk kegiatan berekspresi semakin mudah, sesuatu yang dulu sangat sulit dilakukan. Hingga banyak dari kita yang perlu menunjukkan diri, karena sudah melewati zaman yang terbuka. Jadilah berani dan jangan takut, itu kata mereka. Sarananya juga sekarang sangat mendukung, sebagai upaya membuka jalan bagi bidak-bidak untuk bergerak.

Minggu, 13 Desember 2015

Salah?



Apakah kita pernah berbuat salah?

Pastinya sebagian besar dari kita pernah melakukannya. Andai seumur hidup bebas dari kesalahan, sangat luar biasa sekali pembawaan orang tersebut, apalagi sejak masih bocah sudah merasa selalu benar. :P

Kata Salah itu lawan dari kata Benar, pengertiannya itu sesuatu yang tidak seharusnya dilakukan, hingga identik dengan sebuah kekeliruan. Dipastikan ada sebuah ukuran yang digunakan, misalnya kita harus meminta jika menginginkan sesuatu, atau kita harus berkata andai hendak mengucapkan sesuatu, lalu kita harus berjalan jika ingin sampai di depan.