Jumat, 02 November 2012

eksplore Puncak (Cibodas-Cipanas-Cisarua)

 

Pada akhirnya saya merealisasikan rencana, mengunjungi Puncak Bogor dengan membawa motor. Persiapan juga mendadak, karena berjarak dua hari sejak niatan tersebut terbesit di dalam kepala.

Meski sering ke Puncak tetapi saya masih penasaran, karena belum mendatangi salah satu tujuan saya, yaitu air terjun Cibeureum, terletak di dalam Taman Nasional Gunung Gede Pangrango pintu Cibodas. Berbeda dengan tujuan lain yang jauh, karena Cibodas ini cukup dekat maka saya hanya menunggu ajakan, dari siapa saja yang akan pergi entah teman atau keluarga.

Tidak sempat terpikirkan untuk membawa motor karena jarak lumayan jauh. Tetapi kembali berpikir saat mengingat di Bali, di sana saya bisa menuju daerah puncaknya, masa di rumah sendiri di Jakarta tidak bisa? 

Setelah memaparkan "visi" tersebut ke dalam Twitter, seketika niatan saya membumbung tinggi, secara cepat mencari info jalur ke Puncak yang dilalui motor. Akhirnya setelah melihat hari dan aktifitas, keinginan tersebut mulai dilakukan kemarin tanggal 01 November 2012.
Dua Puncak Denpasar > Bedugul & Kintamani

Pukul 5 pagi sengaja saya sudah keluar, untuk menghindari kemacetan jalan Ibu Kota, hingga waktu tidak banyak terbuang. Menuju Lebak Bulus karena akan melewati jalur Parung Bogor. Pukul setengah 6 pagi saya telah sampai di perbatasan Jakarta di kawasan Pondok Cabe, lalu lintas dari arah berlawanan sangat padat, mereka yang hendak memasuki kota. Selepas itu pukul 7 pagi mulai memasuki kota Bogor.

Setelah sampai di kota Bogor, saya mengambil jalur alternatif untuk menuju Puncak, melewati Rainbow Hills sebelum masuk di jalur Puncak yang sebenarnya. Pagi itu suasana cukup sepi dan lancar, saya sempat mengisi perut dahulu di Sate Kiloan PSK yang sudah dekat ke resto Rindu Alam pukul setengah 9 pagi.

Pukul 9 saya akhirnya sampai di Cibodas, dengan tiket masuk kawasan wisata 6rb dan memarkir motor. Tiket masuk tujuan wisata air terjunnya dikenakan retribusi 3rb saja.

Dari papan petunjuk maka jarak ke air terjun itu 2,6 kilometer, dengan lama perjalanan sekitar satu jam. Pagi itu saya jalan berbarengan dengan salah seorang petugas yang juga akan naik, entah tujuannya ke mana. Mengobrol sepanjang perjalanan waktu menjadi tidak terasa, kami berbincang seputar kawasan tersebut, pendakian, keaktifan gunung, dsb. Si Bapak petugas ternyata sudah berumur 59 tahun, dan masih kuat untuk jalan lumayan jauh, bersamaan dengan itu kami melewati segerombolan pelajar yang jalan santai.

Si Bapak tadi berhenti di perbatasan jalur pendakian gunung dan ke air terjun, beliau hendak memantau pembangunan pos yang sedang dilakukan pekerja. Menurut saya jalurnya cukup baik berbentuk jalan setapak berbatu, jadi kita tidak akan nyasar. Dijelaskan pula jalur menuju Puncak juga seperti itu, untuk meminimalkan cerita pendaki yang nyasar keluar jalur.

Ketika jalan sendiri perjalanan baru terasa jauh, karena dari percabangan jalan tadi seingat saya itu tinggal seperempat jalan. Mungkin itulah enaknya jalan bersama partner, waktu tidak terasa, tetapi kelemahannya kita tidak bisa merasakan setiap detik demi detiknya.

Jelang pukul 10 akhirnya saya sampai di lokasi air terjun, berjalan dari bawah tanpa berhenti. Pertama-tama seperti biasa saya sightseeing sekitar dengan kamera, merekam air terjun pertama dan tidak jauh dari sana juga terlihat air terjun kedua, pagi itu cukup ramai dengan wisatawan.

Air terjun kedua yang tidak seramai air terjun pertama karena kondisi sekitar yang tidak terlalu luas, di sana sudah ada segerombolan pemuda yang narsis berfoto berulang kali sehabis mandi. Kembali lagi ke air terjun pertama dan duduk dekat kolam yang tidak dalam tersebut. Karena kolamnya yang cetek, saya juga sudah bersiap untuk bermain air.

Pernah mendengar kita bisa refleksi punggung dari guyuran air terjun, sepertinya itu salah satu yang buat penasaran. Saya mendekat ke guyuran air terjun pertama, tapi curahan airnya kencang sekaligus dingin luar biasa, untuk mengeluarkan suara saja mulut seperti gemetar.
 

Akhirnya saya memutuskan kembali ke air terjun kedua, karena di sana tidak terlalu deras. Model curahan airnya lebih berbentuk seperti tebing. Suasana di air terjun kedua sudah sepi tidak ada orang, beda dengan saat saya datang ada satu kelompok yang sedang bermain air. Ketika  berdiri sejajar dengan air terjun, terlihat biasan cahaya pelangi ke air yang banjir.

Selain dua air terjun yang posisinya bersebelahan, ada satu air terjun lain tidak jauh dari sana. Posisinya berada di balik bukit dan agak tersembunyi. Kolamnya juga sulit dijangkau, karena jalur ke sana berlum terbuka sepenuhnya. Jika mau berada di bawah guyurannya maka harus menapaki jalur tanah di atas jalur airnya.

Lumayan lama saya di sana, hampir dua jam lebih. Ketika akan turun, karena jalan sendiri, waktunya jadi terasa lebih jauh, mungkin karena baru pertama kali. Saya banyak berhenti untuk foto-foto yang sengaja saya lewatkan ketika datang tadi. Dari jembatan bisa melihat pemandangan Gunung Pangrango yang berdiri gagah dan dekat, termasuk melihat Telaga Biru di sisi jalur.

Ternyata cukup 40 menit saja saya sudah kembali ke tempat parkir. Mengganjal perut di salah satu warung sederhana. Awalnya tujuan saya hanya dua yaitu Air terjun Cibeureum dan Kebun Teh Gunung Mas, tapi kala itu masih cukup siang sekitar pukul 1, sedangkan saya berencana ke Kebun Teh saat sore, awalnya ingin menghindari macet di kota Bogor dan Jakarta pada malam harinya, sehingga saya mencari tempat lain untuk mengulur waktu.

Pilihan jatuh ke Taman Bunga Nusantara, saya pernah mengunjunginya sekali tetapi sudah sangat lama. Ketika diingat yaitu ketika perpisahan Sekolah Dasar, sewaktu tanggalan masih ada di abad dua puluh.

Tidak lama saya sampai di sana dengan tiket masuk 25rb. Yang saya ingat dari tempat ini adalah adanya menara pandang serta komplek permainan Alam Imajinasi. Kondisi di dalam  taman masih terawat dan terjaga, banyak petugas kebersihan yang beraktifitas sehingga rasanya sebanding dengan harga tiket yang dikenakan.

Saya hanya jalan-jalan saja di dalam dan masuk ke Alam Imajinasinya yang sudah tidak berbayar. Dahulu saya ingat untuk masuk saja harus bayar, mungkin saja kebijakannya sudah berubah sekarang, karena jaraknya juga lumayan sangat jauh, lebih dari satu dekade. Setelah dari sana mencari dan naik ke Menara Pandang, melihat sekitar dan ada lokasi unik bernama Taman Rahasia. Sepertinya tempat itu perlu dicoba.

Jelang pukul 3 sore akhirnya saya keluar, memutuskan ke arah Cipanas untuk mengisi perut dengan Sate (lagi),  kali ini bernama warung sate Shinta yang terletak di batas keramaian kawasan tersebut.


Kemudian setelah kenyang kembali menyusuri jalur berkelok Puncak untuk turun, pukul setengah 5 sore sampai di kebun teh Gunung Mas, dengan biaya tiket masuk dan parkir 8rb.  Meski terdengar ketinggalan zaman, tetapi baru saat itulah saya berkunjung ke Agrowisata Kebun Teh tersebut. Sebelumnya hanya sering lewat saja tanpa ada kesempatan mampir, saya di sana hingga jelang petang pukul setengah enam sebelum pulang.

Prediksi saya jika turun lebih malam jalan akan lancar ternyata salah, di Cisarua sudah terlihat antrian macet kendaraan, cukup dimaklumi karena melewati pasar. Setelah keluar dari kepadatan, tidak terlalu jauh juga kembali macet dari kawasan Megamendung, berlangsung hingga Gadog sebelum masuk tol Jagorawi.

Nampaknya Taman Nasional Gunung Gede Pangrango punya beberapa pintu masuk lain, salah satunya pintu Selabintana di Sukabumi. Kemudian Taman Nasional ini juga punya tetangga di sisi baratnya yang bernama Taman Nasional Gunung Halimun Salak, sudah barang tentu masuk perencanaan nanti. :p