Minggu, 20 Oktober 2019

Jam Siang Malam



Jam Siang Malam?
Apakah ini waktu untuk kita makan siang dan malam? 
Mungkin bisa dibilang iya, makanan "rohani" lebih tepatnya.
:D


Makanan Rohani? Apa itu? Itu adalah sesuatu yang mengenyangkan kita, berkaitan dengan jiwa kita, seperti keadaan damai sejahtera dan sukacita di dalam diri kita sendiri. Bisa dari lagu-lagu atau pengajaran secara langsung, meski semuanya akan bertumpu pada pengalaman pribadi masing-masing. Yang mau difokuskan di sini adalah jam pengajaran.

Bicara tentang pengajaran dan belajar, maka hal itu diartikan sebagai adanya informasi atau pandangan baru yang diberikan, dari guru ke murid. Hal itu berlaku pada umumnya juga di semua raung lingkup, seperti sekolah, rapat kantor, bahkan untuk pertemuan menyangkut keyakinan seseorang.

Kegiatan "Belajar" yang mau saya angkat adalah tentang sebuah pertemuan khusus. Banyak dari kita menyebutnya sebagai ibadah, meski kata itu memang sangat khusus, karena berhubungan dengan jalur agama yang sangat dihormati masyarakat kita. Jadi untuk amannya saya lebih memilih kata "Belajar" atau "Kuliah"  yang lebih umum. :D

"Belajar" di sini adalah sebuah pertemuan dari kita-kita yang punya keyakinan sama. Saya lebih suka memakai istilah tersebut, karena belajar jadi tujuan utama pertemuan kami dan kita pada umumnya. Mendengar materi khusus menyangkut keyakinan kita sendiri. Istilahnya ada pembaharuan dalam kepercayaan kita, melalui pengajaran dan sejenisnya.

Pada awal abad 21, ada sebuah terobosan yang dilakukan oleh sebagian umat dari kita. Terobosan tersebut dipandang miring, karena pemilihan lokasi yang tidak biasa, karena terletak di dalam Pusat Perbelanjaan, Plaza atau Mal dan sejenisnya. Bahkan ada sebuah sindiran mengenai lokasi tersebut, mereka mau jalan-jalan atau benar-benar mau belajar? Karena pada kala itu tempat yang masih bisa diterima adalah sebatas Ruko.

Secara kebetulan saya cukup lama andai stay di suatu tempat, dalam hal ini TKP tempat kuliah minggu itu dilangsungkan. Tempat pertama saya itu adalah berupa lokasi khusus sebagai tempat belajar, dengan bentuk bangunan yang memang identik dengan nama tempat belajar tersebut. Satu dari dua lokasi tua, sebagai tempat berdiamnya para pendiri salah satu organisasi sinode, tempat bernaung banyak tempat perkuliahan dalam satu wadah, berlokasi di Petamburan dan Menteng.

Sampai pada satu waktu saya ikut keluarga, karena mereka memutuskan pindah tempat. Kali ini lokasinya di sebuah gedung di bilangan Kebayoran Lama. Sesi yang dimulai di sini adalah pukul 8 pagi, agak berbeda dengan tempat sebelumnya yang dimulai pukul 6 pagi (jam baru bangun).  Lokasi yang berada di dalam sebuah gedung masih bisa diterima, karena masih terhindar dari selentingan, "Itu mau jalan-jalan atau belajar?" Xp

Selama beberapa waktu akhirnya saya juga ingin pindah, setelah mendengar berbagai masukan dan tipe pengajaran yang dilangsungkan dari orang lain. Plus dimulailah era soliter, karena saya mulai datang sendiri, tidak lagi bareng keluarga, demi pertumbuhan sendiri dan bukan ikut-ikutan. :P

Akhirnya saya memilih lokasi yang tidak biasa, karena berlokasi di tengah keramaian toko dan sejenisnya. Tempat selanjutnya yang saya jadikan rumah adalah Carrefour Duta Merlin. Pada kala itu pembicara utama lebih banyak mampir di jam 11 siang. Tapi karena pada waktu itu masih banyak tokoh luar yang diundang, jadinya sesi pagi juga tidak kalah menarik, karena yang memberi materi "kuliah" juga beragam.

Pada tempat tersebut, jika ikut sesi pagi hanya bisa naik dari lift yang hanya berjumlah dua. Itupun belakangan kita harus berbagi akses dengan kumpulan "kuliah" lain, mereka ada di lantai bawah dan berbeda satu lantai saja. Jadi ada dua rumah kuliah di dalam satu gedung, terasa aneh? Awalnya iya, tapi belakangan saya juga menemukan alasan yang bisa diterima.

Bahkan pernah pada satu waktu, salah satu lift-nya mengalami gangguan, hingga mengakibatkan antrian lumayan parah. Hingga beberapa di antara pengunjung diarahkan menggunakan lift darurat, akses loading dock yang biasa digunakan oleh karyawan sana. Otomatis kami melewati dapur dari banyak resto yang beroperasi di sana, melalui pintu belakang. :O

Kemudian yang kedua ketika tempat saya stay itu pindah ke Roxy Square, meski tempat itu tidak terlalu ramai seperti tetangganya ITC Roxy Mas. Bedanya di sini pengunjung boleh langsung masuk, kemudian bisa memilih antara naik eskalator, atau lift yang tersedia. Jalan di antara banyak toko yang masih tutup  mulai terasa biasa saja bagi saya kala itu.

Pada waktu terakhir ketika tempat saya stay siap berpindah tempat lagi, ternyata sudah ada rumah baru yang ikut nimbrung di sana. Bukan lagi berbeda lantai seperti sebelumnya, tapi di lantai yang sama dan hanya bersebelahan. Hal itu karena saya sempat melewati pintu tempat kuliah lain tersebut, ketika datang pada satu hari. Kala itu saya masih merasa aneh, untuk apa dekat-dekat, seperti tidak ada tempat lain saja. B)

Pada akhirnya tempat saya stay pindah (lagi), sekaligus langsung mengubah pandangan saya tentang jarak tempat kuliah yang berdekatan. Kala itu kami pindah ke Gedung Gajah Mada Tower, ternyata di sana sudah ada satu atau dua tempat kuliah lain. Awalnya tidak enak juga, karena kami tidak bermaksud mengganggu atau menyaingi, karena memang dapat tempatnya di sana, pilihan yang paling baik (nyaman) di antara beberapa pilihan lain.

Jadinya seiring berjalannya waktu, selentingan klasik tadi terpatahkan, tentang mau jalan-jalan atau belajar. Alasannya? Karena tujuan kita ke sana utamanya untuk belajar atau kuliah, jadi toko-toko lain idealnya hanya sebagai fasilitas, tidak akan mengganggu tujuan utama kedatangan kita ke sana. Bagaimana kalau masih terganggu? Artinya kita belum dewasa, seperti anak kecil yang mudah dialihkan perhatiannya, memangnya kita masih bocah? Xp

Ketika pindah ke Gajah Mada Tower, jadwal pembicara utama mulai berpindah jam, karena lebih sering mampir di jam pagi. Alasannya karena jam utama di cabang lain Kelapa Gading yang pindah juga berubah, dari awalnya pagi menjadi siang. Jadinya situasi mulai berbeda, jika biasanya saya ikut sesi yang santai dan tidak terlalu ramai, berganti menjadi riuh dan hampir penuh.

Selama beberapa waktu saya masih cukup betah, hingga mulai tidak kerasan dan memutuskan keluar. Kala itu saya masih setia ikut di jam pagi, karena masih terpengaruh dengan perkataan beberapa orang, bahwa jika ingin fresh, maka ikut yang pagi atau siang. Kalau kata mereka jam sore atau malam itu seperti jam buangan. Hal itu dianggap demikian karena pengunjung di jam tersebut sangat kecil (di tempat itu).

Meski sudah tidak rutin, tapi sesekali saya juga ikut kuliah minggu di tempat yang berbeda. Ada yang jam pagi dan siang, hingga beberapa kali ikut pula yang jam sore. Kala itu saya tahunya jam sore itu lebih lenggang, karena jumlah pengunjung yang tidak terlalu banyak. Periode itu saya memilih jadi independen, tapi jauh dari  rumah "sumber" memang cukup terasa meski tidak saya sadari.

Setelah beberapa lama ada satu lokasi yang "memanggil" saya kembali, datang melalui pintu teman. Beberapa kenalan baru sering berkuliah minggu di sana, tapi hal itu tidak membuat ketertarikan saya datang. Hingga pada satu waktu ada satu nama yang berhasil memberi pengaruh, meski secara tidak langsung.  Akhirnya saya sampai mencari tahu tentang lokasi tersebut dan datang ke sana.

Bahkan awalnya juga saya langsung ketahui, bahwa di lokasi Mal Central Park tersebut ada dua tempat kuliah yang lumayan punya nama. Kemudian sempat ingin mencoba keduanya, meski hal itu tidak kesampaian, karena sudah terlanjur cocok di tempat pertama yang "memanggil" saya tadi. Xp

Awalnya mencoba di jam siang, sebuah sesi yang tidak pernah dibayangkan, karena sangat padat dan ramai. Lokasi duduk benar-benar tidak ada celah kosong, karena membludaknya pengunjung yang datang. Secara kebetulan saya juga bertemu beberapa teman lama, dari dunia sekolah dan kampus dulu. Beruntungnya tempat itu punya banyak jadwal, hingga saya juga mencoba di jam lain. Hingga akhirnya menemukan kenyamanan di jam sore hingga malam, pada pukul tiga dan lima sore, serta pukul tujuh malam.

Pemilihan jam yang akhirnya juga mematahkan selentingan dulu, bahwa jam sore dan malam itu jam "buangan." Hal itu memang bisa diterima jika kondisinya berbeda, karena di tempat baru itu, saya melihat jam sore dan malam juga agak ramai, meski tidak terlalu penuh seperti siang. Sejak saat itu akhirnya saya mulai rutin datang (lagi) kembali ke rumah kuliah, sebagai tempat pengajaran yang sempat ditinggalkan, tentunya ada sebuah perbedaan dengan waktu menjadi independen dan mengembara tanpa rumah.

Pada satu waktu juga mencoba kembali jam pagi, hingga sedikit bernostalgia dengan kebiasaan saya dulu, ketika jalan di antara banyak tenant yang masih tutup. Masuk dari tempat parkir motor, kemudian langsung diarahkan melewati jalur parkir mobil, menuju lift untuk ke lantai berbeda, untuk nyambung ke lift gedung utama. Artinya di sana para pengunjung umum tidak boleh berkeliaran sembarangan jika Mal masih tutup.

Bahkan untuk saat sekarang, sesi jam sore dan malam mulai ada peningkatan pengunjung. Kondisi itu berpengaruh dengan bertambahnya satu jadwal yang diselipkan. Mungkin kondisi itu yang menginspirasi saya untuk membuat tulisan ini. 

Jika awalnya tidak nyaman karena semua kursi penuh, akhirnya kita memang harus memberi tempat pada mereka yang "baru" datang, sesuai dengan tujuan disediakannya kursi itu di tempat tersebut. Mungkin karena alasan "mulai penuh" itulah, akhirnya ditambahkan jadwal baru, hingga konsentrasi pengunjung bisa disebar, terus jadinya kenyamanan yang sudah ada tetap terjaga. :))

Kemudian bertambahnya satu sesi yang benar-benar baru, itu dibedakan dengan jarak satu jam dari jadwal lama. Sementara jadwal lain yang berubah hanya berjarak setengah jam, dimajukan atau dimundurkan. Tapi tetap saja kebiasaan saya belajar untuk sekarang juga mulai terbentuk, ikut di jam yang biasanya datang.

Kenapa jadi memilih sore atau malam? Menurut saya itu kembali lagi pada orangnya masing-masing. Karena sebetulnya setiap jam itu sama saja, yang membedakan adalah bagaimana sikap orangnya. Saya punya pendapat jika ingin belajar, serta bertemu dalam rumah Yang Maha Tinggi, artinya kita harus lebih menyiapkan diri. :P

Jika dikaitakan dengan kalimat awal di tulisan ini, makan fisik saja idealnya 2-3x sehari, bagaimana dengan makanan rohani? Yang hanya satu kali seminggu? Yakin seminggu sekali saja cukup? Semuanya itu kembali lagi pada orangnya, karena ada yang memang sangat penuh kehidupan rohaninya, ada juga yang setengah-setengah, ada pula yang kosong.

Sebetulnya datang ke rumah kuliah itu juga hanya salah satu cara, untuk kita menikmati suasana yang lebih rohani. Kenapa? Karena bisa saja "kuliah minggu" itu sengaja dilewatkan, layaknya manfaatin jatah bolos sewaktu zaman sekolah dulu, kog jadi begitu? Jawabannya bukan karena kehadiran kita di sana, tapi apakah Yang Maha Tinggi itu hadir di tiap-tiap kita? Itu sebetulnya yang paling penting (banget). B)

Ingin bertemu Yang Maha Tinggi di rumahNya langsung? Siapkan waktu terbaik, bukan waktu yang paling senggang. Setuju? Itu hanya berlaku andai kita punya banyak waktu kosong, jika tidak tentu kita harus bijak untuk mengatur waktunya. :D




Update 2022 =
Hampir tiga tahun setelah tulisan ini dibuat, ternyata memang ada perubahan yang tajam terjadi. Pada utamanya saat kita semua melalui musim pandemi. Hal itu berlaku pula untuk lanjutan cerita ini, cukup menarik untuk diangkat lagi, dalam rangka edisi ekstensi. :P

Inspirasi awalnya ketika tempat kuliah minggu ini sedikit berubah, dengan menambahkan satu jadwal di jam sore. Tidak lama kemudian satu jadwal lain juga diselipkan pada jam siang. Hingga untuk satu hari ada delapan jadwal, dengan perpindahan sesi yang cukup sempit, karena hanya berjarak satu setengah jam menuju jadwal berikutnya. Waktu bersih yang tersedia hanya dua puluh menit saja, dari semua pengunjung keluar ruangan, hingga pintu dibuka untuk sesi berikutnya, agar pengunjung selanjutnya masuk, sebelum kuliah dimulai kembali.

Hingga akhirnya musim pandemi datang, hingga kita dipaksa untuk menjaga jarak dan menjauhi kerumunan. Mungkin saja cara ini dipakai pemilik waktu, agar kita justru semakin gencar dalam penyebaran kabar baik. Seluruh "tubuh" memberdayakan teknologi yang tersedia, tetap mengajar dalam jalur on-line, dengan jangkauan tanpa batas, karena bisa diakses oleh pengguna internet dari mana saja sampai ujung bumi.

Satu tahun pertama benar-benar tidak ada kerumunan, sebelum dibuka kembali dengan kapasitas yang terbatas. Untuk jam sendiri dibuka terbatas pula, tentunya untuk mematuhi peraturan dari pemerintah. Hingga datang gelombang kedua dan kembali tutup, tapi tidak lama kemudian buka (lagi), karena setiap pengunjung sudah dilengkapi dengan perisai vaksin.

Lambat laun kapasitas juga semakin bertambah, serta jam kuliah ikut bertambah pula. Hingga gelombang ketiga (kemungkinan terakhir) datang, tapi tidak sampai harus tutup, karena hanya kapasitas saja yang dikurangi. Sampai akhirnya kursi yang tersedia kembali "rapat" dan bertambah, mendekati kondisi sebelum pandemi datang.

Sekarang ini jadwal kembali pada keadaan pertama, saat tulisan awal di atas belum dibuat. Para penanggung jawab lebih memilih kembali pada rencana "aneh" yang terlintas, yaitu dengan membuka jadwal baru di hari sabtu, tapi tetap dapat berjalan lancar. Alasannya cukup masuk akal, agar tidak terjadi penumpukan manusia, ketika peralihan sesi yang hanya punya waktu dua puluh menit, kembali menjadi longgar dengan waktu empat puluh menit lebih. 

Alasan konyolnya jadi kita tidak diburu oleh waktu, serta tetap dapat keluar melalui dua pilihan (tadinya satu pilihan). Jalan kaki menuju Mal, atau langsung turun dengan lift yang ada, tentunya harus bergantian dalam rangka melestarikan budaya antri. :P

Tapi yang pasti jalur on-line idealnya tetap akan ada, sebagai cara tercepat dengan jangkauan terluas. Pertemuan modern (dwi-indera), berupa penglihatan dan pendengaran sebagai penyampaian kabar baik. Berjalan beriringan dengan pertemuan tradisional (panca-indera) tatap muka.
 
"Sehelai rambut saja tidak akan jatuh tanpa izin, apalagi keadaan yang membuat satu dunia pada kerepotan. Pasti ini terjadi karena ACC sudah keluar."