Minggu, 06 September 2020

Geser Fokus



Fokus Satu, Fokus Dua, Fokus Tiga.
Heh, kalau mau Fokus itu Satu saja.

Untuk judul tulisan ini, saya sengaja mencari-cari dulu kata yang tepat. Ternyata memang tidak menemukan yang dicari, tentang sebuah idiom kata yang punya pengertian tertentu. Hingga menggunakan kata yang punya arti sesungguhnya, sesuai dengan yang ingin dibahas kali ini, yaitu Geser Fokus.

Sebetulnya ada satu kata dalam bahasa asing yang punya arti tepat, pernah juga saya angkat di satu tulisan di blog ini, tapi sudah ditarik. Kenapa tidak menggunakan kata itu? Alasannya karena kata tersebut sudah terlanjur identik dengan dunia romansa, oleh karena ada beberapa karya seni memakai identitas tersebut. Namanya itu Serendipity, terjemahan bebasnya adalah menemukan hal lain yang menyenangkan, saat sedang mencari sesuatu.

Film Serendipity itu bercerita mengenai dua tokoh yang bertemu secara kebetulan. Tujuan utama keduanya adalah mencari sesuatu, hingga tidak sengaja bertemu saat hendak sama-sama mengambil kaos kaki untuk tangan. Kemudian terjadilah perkenalan dan obrolan singkat, hingga akhirnya berpisah dengan adegan konyol, kenapa? Karena salah satunya masih mencobai "peruntungan" kedua, dalam arti berharap momentum kebetulan itu terjadi kedua kalinya, tapi nyatanya tidak. Sebetulnya cerita "unik" itu hanya selesai sampai di bagian awal tersebut, karena lanjutannya sudah beda arah tujuan.

Pengalaman yang demikian juga pernah saya alami beberapa kali, pada waktu lalu dan jadi cerita yang tidak mudah dilupakan. Hal itu andai diukur dari awalan, alias pembuka dari bercabangnya jalan kita ke depan.  Kurang lebih garisnya seperti di bawah ini.

Bagaimana jika ukuran yang dilekatkan pada akhiran? Alias penutup? Bukan lagi jalan bercabang ke depan, tapi yang kita tempuh itu secara tidak sadar adalah sebuah percabangan jalan, kemudian akan menyatu di ujung jalan. Kalau demikian maka gambarnya jadi seperti di bawah ini.



Bagaimana mengetahui andai pengalaman kita ternyata ada di percabangan jalan? Jawabannya adalah di akhir kita akan menyadari, tentang apa yang jadi tujuan awal kita yang sedikit terlupakan. Menjadi kurang diperhatikan dalam waktu tertentu, oleh karena fokus kita bergeser (sesuai judul), tentang hal lain yang datang dan mengalihkan pula pandangan kita.

Untuk fokus yang bergeser ini saya jadi mengingat lagi sebuah film, bahkan jadi dua film sekaligus, andai berkaitan dengan akhir yang sesuai atau tidak sesuai dengan harapan. Adegannya itu memang terjadi pada bagian akhir, dalam arti seperti menarik kesimpulan dari sebuah peristiwa unik, serta terjadi secara kebetulan.

Film pertama itu judulnya Up in The Air, di mana tokohnya diceritakan sering terbang menggunakan pesawat. Pada awalnya bangga dengan kegiatan tersebut, bahkan punya tujuan khusus menempuh jarak tertentu, untuk mencapai rekor pribadi. Hingga akhirnya ada hal lainnya juga terjadi, selain bertugas mengajari juniornya, ternyata tokoh ini berkenalan juga dengan tokoh lain. Ujung-ujungnya pasti kita sudah bisa menebak, tentang masalah Emosi Perasaan yang punya titik akhir dengan nama cinta.

Tokoh ini awalnya masih memberi batasan, karena tidak ingin melibatkan Emosi dalam hubungannya dengan tokoh lain. Hingga dorongan dari sang junior justru memantik Emosi tersembunyi dalam dirinya, kemudian mulai "beraksi" untuk menuntaskan keinginan terpendamnya tersebut, meski dengan hasil tidak sesuai harapan. 

Kemudian dalam hitungan hari, ternyata dirinya sudah mencapai rekor jarak yang diinginkan. Diumumkan oleh Pramugari pesawat, serta mendapat tepuk tangan dari penumpang lain, hingga dijamu secara khusus oleh sang Pilot. Tapi kejadian tersebut jadi tampak biasa saja dirasakan, karena fokus yang sudah bergeser ke hal lain. 

Kemudian ada juga film lain yang teringat kembali, bedanya dengan hasil yang cukup sesuai harapan, meski nyaris gagal. Kronologinya juga hampir mirip, dalam arti tokohnya punya tujuan awal, untuk datang ke rumah orang tua dan memberi testimoni di sana. Tapi ada hal lain datang secara tiba-tiba, kemudian secara sadar momentum itu dibiarkan berjalan (tidak menolak), ketika tiba-tiba diajak berkenalan untuk kencan buta. Hingga pengalamannya terisi dengan sesuatu yang baru, berhubungan pula dengan Emosi yang selama itu belum dirasakan.

Film itu judulnya Man Up, ketika tokohnya diceritakan baru ketahuan di tengah pertemuan, bahwa dirinya bukan sosok yang dimaksud dalam kencan buta. Terpaksa berpisah dengan tokoh yang mengajaknya berkenalan tersebut, karena yang bersangkutan akan bertemu dengan identitas lain yang sebenarnya.

Tapi dari adegan itu diingatkan tentang tujuan awal, bahwa realitas itulah yang sesungguhnya diinginkan dan terjadi. Khusus untuk cerita ini tokohnya tidak percaya, serta menganggap perasaan cinta itu lelucon, serta tidak pernah berusaha untuk menjalankannya. Di akhir seperti diingatkan untuk balik lagi ke tujuan awal, tentang dirinya yang akan memberi testimoni, di hari jadi pernikahan kedua orang tuanya. 

Nah dari reaksi kedua tokoh ini hampir mirip, karena emosi yang dirasa seperti sedang "mengatur ulang" dirinya sendiri. Atau dalam bahasa komputer itu sedang restart, oleh karena ada tambahan perangkat lunak yang baru saja ter-install. Ciri khas yang ditemukan keduanya juga mirip, karena jadi tidak mengingat apa yang awalnya sudah disiapkan, sebelum kemunculan emosi yang mengaduk-aduk perasaan tersebut. :))

Misalnya tokoh Up in The Air, saat berbincang dengan Sang Pilot jadi tidak mengingat apa-apa, bahkan tidak tahu ingin berucap apa, meski momentum itu disebut sangat dinantikan beberapa waktu lalu (sebelum Emosi datang), sampai pernah disiapkan pula apa yang ingin dibicarakan, tapi jadi tiba-tiba terlupa. Kemudian tokoh Man Up, saat memberi testimoni juga tidak bisa mengingat apa yang ingin disampaikan, karena teralihkan dengan pengalaman (Emosi) yang baru saja dialami.

Kedua tokoh di film tadi mendapat pengalaman Emosi istimewa, kenapa? Karena yang dialami itu merupakan yang "pertama" kali, tentu pengalaman tersebut akan mendatangkan sensasi yang berbeda. Pertama kali punya perasaan dengan sosok lain, atau ternyata sangat menyenangkan punya kegiatan berdua mengisi waktu. Jadi wajar saja emosi tokohnya seperti teraduk-aduk, karena diceritakan baru pertama kali terjadi, bagi kedua tokohnya tersebut. :))

Saya juga menarik kesimpulan pribadi, bahwa momentum "mengatur ulang" idealnya bisa dijadikan acuan, jangan sampai kita sia-siakan. Artinya kita diingatkan tentang tujuan awal kita, bersamaan dengan pengalaman baru yang dialami. Hal lain yang datang secara kebetulan, bisa jadi itu sebuah hadiah. Kenapa? Karena hal lain itu secara tidak langsung "mengisi" juga pengalaman kita, bahkan mampu mengalihkan sesaat tentang langkah awal yang kita jalani. :))

Tentang harapan lain yang muncul anggap saja itu bonus, bisa beda cerita dan tentunya itu harus ada upaya tersendiri. Artinya ada sesuatu yang belum pernah kita lakukan, kemudian saat menjalankannya ternyata akan mendatangkan kesenangan pula. Bisa juga sebagai persiapan kita untuk masuk ke dalam dunia tersebut, sesuatu yang belum pernah terbayang atau justru kita hindari sebelum itu.

Untuk cerita kali ini, mungkin bisa serupa dengan pengalaman yang terjadi, hingga tulisan ini ada. Anggap saja simbol garis yang tepat pada awalnya seperti di bawah ini. Ada sebuah keinginan mencapai batasan tertentu dalam sebuah pengalaman, titik terdekat sejak awal memulainya. Ketika "berhasil" ada sebuah kebanggaan tersendiri. :)


Kebanggaan itu sebagai pintu masuk, untuk merasakan kembali sebuah angin yang bergerak ke arah positif. Kurang lebih merasakan sebuah emosi yang baik, hingga pada akhirnya ada sebuah pengingat, tentang sebuah keinginan terpendam, bahkan jadi terlupakan saat batasan pertama tadi dilewati. Titik terjauh yang belum terpikirkan, tapi masuk hitungan yang teringat karena tetap jadi bagian penting. :))


Pengalaman yang dirasa hampir mirip, kesannya biasa saja sewaktu diingatkan tentang "panjang" garis biru yang akhirnya tercapai. Agak berbeda dengan pencapaian "lama" garis merah, karena kala itu masih cukup bergairah, ketika berhasil melewatinya. Bersemangat ketika mencapai batasan diri, tentu hal itu berlaku normal dan searah. Berbeda dengan sesuatu yang didapat, melampaui batas kita, tapi jadi biasa saja. Xp

Mungkin perbandingan cerita tadi ada berhubungan, dengan sedikit pengalaman yang hendak dibagikan. Meski ada perbedaan dengan kedua tokoh yang diangkat tadi. Jika mereka mengalami Emosi pertama yang bisa mengaduk-aduk perasaan. Kalau saya bukan yang pertama lagi, jadi tidak terlalu sampai amnesia, seperti lupa hendak melakukan apa, khususnya ketika diingatkan tentang tujuan awal. Cukup merasa bahwa Emosi itu ternyata masih ada, serta mulai bangkit kembali, setelah meredup untuk sekian lama. :))

Ini juga berkaitan dengan yang namanya kesempatan. Pernah dengar bukan? Beberapa momentum bisa datang di situasi berbeda. Seperti pada saat kita tidak siap sama sekali, masih belum siap dan baru belajar, atau saat kita baru bersiap, atau sudah bersiap tapi memang belum sepenuhnya siap. Hingga pada akhirnya kita benar-benar siap, untuk mengambil dan menjalankan kesempatan tersebut. :P

Jadi pilih yang mana? Menunggu kesempatan datang dan mengambil momentum tersebut. Atau kita buat sendiri kesempatan itu? Jadi kita sendiri yang menjemput momentum itu, jawabannya akan kembali pada kita masing-masing, setuju?

Satu lagi yang perlu diingat, seseorang yang sudah siap cenderung biasa saja, terutama ketika mengambil kesempatan. Pasti ada perbedaan antara sosok yang sudah malang melintang, atau masih jadi pendatang baru. Ada sebuah fakta, bukan lagi soal pepatah, bahwa energi yang berlebihan bisa mendatangkan bencana, jadi secukupnya saja.


Satu Fokus Ini, Dua Fokus Itu, Tiga Fokus Ini Itu.
Lah tadi katanya Fokus Satu aja.
Memang iya, Fokus Satu sampai jadi satu-satunya.
Xp