Jumat, 18 September 2020

tour Timur Tengah (Israel - Mesir - Yordania)

Untuk cerita kali ini kejadiannya sudah cukup lama, lebih tepatnya tujuh tahun yang lalu (2013). Tapi sepertinya menarik juga untuk diangkat, meski untuk detail ke mana saja saya sudah lupa. Kalau mau bisa saja ditelusuri, melalui data pengambilan foto dan video dari kamera, karena di sana terekam kapan waktu diambil dan tentunya berurutan. :D

Tapi karena hampir semua tujuan itu serupa, jadi hampir tidak ada bedanya satu sama lain. Umumnya tujuan kami itu sudah pasti tempat ibadah, berupa bangunan gereja, dengan nilai sejarah yang terkandung di dalamnya. Oleh sebab itu saya akan mengangkat sisi unik dari perjalanannya saja, tentu yang membuat saya berkesan. Hal itu juga berlaku dengan video kenang-kenangan yang dibuat, hanya fokus pada posisi geografis dan tujuan favorit saja. :)

Untuk trip kali ini adalah pertama kalinya, bagi saya keluar dari zona khatulistiwa. Alias mulai bergerak keluar dari daerah Tropis, menuju kawasan Sub-Tropis, tapi belum sampai masuk ke daerah beriklim Sedang seperti di zona Eropa sana.

Karena perjalanan akan memakan waktu panjang, maka pada hari pertama kami sudah bermalam di dalam pesawat. Bertolak dari tempat transit di KLIA selama delapan jam sejak pagi. Kemudian transit lagi di Bangkok, bedanya kali ini hanya untuk keperluan administrasi. Semua barang bawaan ditinggal di kursi, karena tetap akan menggunakan pesawat yang sama.


Akhirnya baru benar-benar bertolak dari kawasan ASEAN jelang tengah malam. Perjalanan dikatakan akan memakan waktu 11 jam tanpa henti. Tapi karena perbedaan zona waktu, maka kami mendarat di Kairo itu di jam subuh, berbeda dengan tempat keberangkatan yang sudah tengah hari. Saya juga melihat dari jendela pesawat, bahwa kami seperti berkejar-kejaran dengan sinar matahari dari arah timur.

Hari pertama kami sudah langsung bergerak ke berbagai tempat tujuan. Pertama-tama adalah menitipkan tas peserta di hotel tempat menginap, lokasinya itu persis di gerbang masuk wisata Piramida. Kemudian langsung ke beberapa tempat tujuan, salah satunya masuk ke daerah Piramida. Kemudian ada gereja yang punya nilai sejarah, karena menjadi tempat singgah Yusuf dan Maria, ketika membawa bayi Yesus untuk mencari tempat aman.

Salah satu yang unik adalah lokasi dari sebuah gereja, terletak di celah tebing dan terbentuk secara alamiah, ukurannya lebih besar dari sekadar goa biasa. Tapi untuk menuju ke sana harus melewati daerah kumuh, karena di sana menjadi kawasan yang jauh dari kata modern, hingga dinamakan gereja sampah. Menjadi satu-satunya gereja yang masuk dalam video perjalanan saya ke sana. :))

Menjelang sore baru kami beristirahat di hotel, serta tujuan berikutnya adalah santap malam di atas Perahu, melaju di atas sungai Nil. Tapi karena saya sudah cukup letih, awalnya sekedar ingin rebah di kasur, ternyata jadi ketiduran sungguhan. Melihat jam saat bangun sejenak, ternyata sudah pukul 9 malam waktu setempat, hingga melewatkan acara dinner tersebut. Xp

Saya juga baru mengetahui, bahwa di kawasan Sub-Tropis seperti Mesir ini agak berbeda dengan negara Indonesia. Pada saat musim panas, matahari akan beredar lebih panjang. Sinar matahari baru benar-benar menghilang di atas jam 8 malam, berbeda dengan negeri khatulistiwa yang punya hitungan pas, pukul 6 sore siang sudah berganti jadi gelap.

Ketua perjalanan memberi pilihan kepada peserta, ingin dua malam di sana, atau dua malam di daerah Taba, berlokasi di daerah pantai Laut Merah, yang sudah dekat ke perbatasan Israel. Akhirnya banyak yang memilih lanjut saja, hingga esoknya langsung bergerak melintasi padang pasir, sebuah pemandangan yang jarang dijumpai, sejauh mata memandang hanya terlihat kegersangan khas gurun pasir.



Menjelang sore akhirnya kami sampai, dengan suasana yang memang lebih nyaman dan elit, agak berbeda dengan suasana Kairo yang cukup padat penduduk. Lokasi hotel kami ada di tepi pantai, peradaban "asing" yang kami singgahi jadi tidak terasa. 

Tujuan selanjutnya adalah mendaki pegunungan Sinai, kami akan mulai bertolak dari hotel justru pada malam hari. Karena tidak ingin tertinggal dan ketiduran lagi, maka saya tidak lagi berbaring dan merebahkan diri. Berusaha menahan kantuk dan baru tertidur saat sudah di dalam bis. Tidur selama beberapa jam cukup baik, hingga sampai di sana selepas tengah malam.

Kami akan mendaki pegunungan Sinai, bisa juga dengan menaiki Unta hingga batas tertentu. Hingga akhirnya menjelang subuh kami sudah sampai di puncak. Karena kala itu sedang musim panas, maka matahari sudah terbit sekitar pukul 4 pagi.

Kemudian kami kembali dan saya tertidur lagi di dalam bis, hingga sampai hotel menjelang siang. Sisa hari itu merupakan acara bebas, karena kami akan menginap semalam lagi, sesuai dengan pilihan banyak peserta. Bersantai dan kembali tidur untuk menghilangkan sisa kantuk, menjelang sore baru jalan-jalan di sekitar hotel, yang ternyata cukup luas juga.

Selepas petang sinar matahari masih cukup tinggi, hingga pukul 8 malam baru mulai gelap. Pada posisi saya berdiri itu di tepi pantai, di seberang lautan sudah merupakan negera Yordania, kemudian menengok ke arah selatan di seberang (sebelah kanan), tebakan saya sudah masuk wilayah negara Arab Saudi, dengan lampu-lampu yang mulai menerangi kota. Sensasi berada di tiga perbatasan negara ini cukup berbeda. :D

Kemudian salah satu yang cukup mahal di sini adalah air, karena antara sarapan pagi dan makan malam agak berbeda dalam penyajian. Untuk mengambil air minum lebih puas di pagi hari, karena pilihan air dingin beraneka rasa tersedia, dari minuman bersoda, jus, atau yang lain. Hingga di sana kita harus jeli mengatur dahaga, karena tidak bisa seenak-enaknya haus sedikit tinggal minum seperti di Nusantara. Xp

Esoknya kami sudah bergerak ke perbatasan, untuk memasuki kawasan Israel. Kemudian kota perbatasan yang dilewati adalah Eliat, hingga sekalian santap siang di sana. Hingga menempuh perjalanan panjang, melewati gurun yang dinamakan Nagev di selatan, bergerak ke arah utara. Bedanya padang gurun yang dilewati sudah tidak segersang di Mesir, karena mulai ada lapak-lapak perkebunan di beberapa bagian.

Hingga kami sampai di kota Yerusalem Baru, karena daerah itu sebagai perluasan dari wilayah utama Kota Tua Yerusalem, atau yang sering disebut Yerusalem Timur. Kemudian kami akan menginap tiga malam di kota Bethlehem tetangganya. Hari itu kami sudah mulai bergerak ke sana ke mari, umumnya masih berupa gereja yang dikunjungi.

Wilayah Bethlehem otoritas keamanannya ada di bawah Palestina, hingga agak berbeda dalam suasana, cenderung lebih "santai" seperti di Indonesia. Kemudian karena air minum di sana sangat mewah, ketika saya membeli 2 botol air mineral 1,5 liter di kios seberang hotel, itu seperti mendapat sebuah pelepas dahaga yang nikmat. Harga satu botolnya saja dikenakan 1,5 USD, alias di atas 15rb rupiah.

Salah satu gereja "penting" yang dikunjungi adalah tempat kelahiran bayi Yesus, lokasinya itu persis di seberang hotel kami. Jadi esok paginya hanya berjalan kaki saja ke sana, sebelum akhirnya kembali berkeliling, karena beberapa tujuan masih ada di sekitar sana. Dimulai dari tempat-tempat penting di sekitar Yerusalem, hingga masuk ke Kota Tuanya yang dikelilingi tembok, berjalan kaki di sana, termasuk Tembok Ratapan. Kemudian ada  juga beberapa bukit dan taman yang mengelilingi Kota Tua tersebut.

Tujuan yang agak jauh itu seperti Yerihko dan Qumran, serta beberapa lokasi di sekitar Laut Mati. Hingga akhirnya berendam di tepi Laut Mati, di pantai Kalia, pada sekitar pukul 6 sore yang masih terang. Ternyata meski bisa berenang mengambang di sana, airnya cukup keruh dan di tepiannya banyak lumpur mengendap. Jadi tidak bisa terlalu santai seperti di pantai pada umumnya, karena mata akan terasa lebih cepat perih.

Setelah melewati 4 hari di sekitar Yerusalem, maka kami mulai bergerak ke arah utara untuk berpindah hotel kembali. Tapi sebelum ke sana kami mampir di wilayah penting lainnya, seperti kota Haifa dan Nazareth. Hingga akhirnya jelang sore sampai di hotel, lokasinya itu di kota Tiberias di tepi danau Galilea. Di sana kami akan menginap dua malam saja, hingga hari terakhir sebelum keluar dari sana.

Esoknya kami langsung bergerak, kembali mengunjugi beberapa gereja, serta beberapa bukit penting yang dianggap pernah disinggahi Yesus. Kemudian ada juga beberapa kota kecil, seperti sisa puing-puing kota Kapernaum, serta Yardenit sebagai lokasi hulu sungai Yordan, beberapa peserta ada yang dibaptis kembali di sana. 

Kami menuju beberapa titik di sekitar danau Galilea, serta berhenti pada posisi yang langsung berbatasan dengan tepi danau. Lokasi yang katanya masih berada di bawah garis permukaan laut, tapi sudah tidak sedalam di Laut Mati. Hingga menyeberangi danau tersebut dengan kapal, setelah santap siang Ikan Petrus di sebuah resto.

Hari terakhir kami sudah keluar hotel, bergerak ke arah utara karena waktu masih tersedia. Kemudian singgah di beberapa tempat selama menuju ke sana, hingga saya sadari, bahwa awan baru terlihat di daerah itu (Iya, awan beneran). Pengecualian itu di daerah Haifa, karena sudah berada di pesisir laut Mediterania. Sebelumnya baik di Tiberias, Yerusalem, serta seluruh daerah Mesir, di sana langit terlihat cerah berwarna biru, tanpa ada awan sama sekali. Hal itulah yang membuat saya takjub, betapa kering sekali daerah sana.

Kami sampai di sana, untuk menaiki Gunung Hermon dengan kereta gantung, katanya jika musim dingin di atas sana ada salju. Sesampainya di Puncak, tempat yang kami singgahi sudah perbatasan dengan negara Suriah. Info dari tour guide, kota Damaskus sudah bisa terlihat di balik bukit, tapi hanya yang berkepentingan saja yang boleh ke sana, itu juga didampingi dengan petugas atau tentara.

Akhirnya selepas siang kami mulai bertolak keluar dari Israel, menuju perbatasan di wilayah Emek Hamayanot, untuk menyeberang ke Yordania, melewati jembatan di atas sungai Yordan. Kemudian bersiap untuk ke kota Amman sebagai ibu kota, serta perjalanan ditempuh cukup panjang beberapa jam.

Saat menaiki bis di Yordania, maka tour guide lokal berbicara dalam bahasa Inggris, kemudian dialih-bahasakan oleh ketua tour kami yang menemani. Sistemnya hampir sama dengan perjalanan selama di Mesir, di sana ada dua orang tour guide lokal, berbicara dengan bahasa inggris dan diterjemahkan oleh ketua kami.

Cerita berbeda justru kami alami selama perjalanan di Israel, karena tour guide-nya berbicara dalam bahasa Indonesia langsung. Dari tata cara bicara sudah bisa meladeni omongan seluruh peserta, dibumbuhi pula dengan candaan sebagai ciri khas penduduk Nusantara. Hingga selama di sana saya seperti sedang tidak berada di luar, karena semua tujuan seperti dijelaskan oleh orang sendiri. :P

Menempuh perjalanan cukup panjang, sebelum berbelok naik ke arah bukit. Awalnya tujuan kami itu gereja Bukit Nebo, tapi karena sudah terlalu sore jadi sudah tutup pada pukul 7 malam, tapi masih agak terang. Akhirnya kami singgah di tempat parkir di sebelahnya. Di sana merupakan tempat di mana Musa diizinkan, untuk melihat ke arah tanah perjanjian, meski tidak diperkenankan untuk masuk ke dalamnya. Waktunya tepat bersamaan dengan matahari tenggelam menjelang pukul 8 malam, hingga kami langsung bergerak ke pusat kota.

Ketika memasuki kota Amman, mulai ada yang berbeda di sana kala itu (2013). Akhirnya saya melihat gerai resto cepat saji seperti McDonald dan Burger King. Sesuatu yang tidak saya jumpai di ibu kota Mesir, serta di wilayah Israel, atau karena memang tidak mengunjungi Tel Aviv sebagai pusat metropolitan di sana.

Kemudian untuk mengulur waktu menyesuaikan jam keberangkatan pesawat, maka kami singgah di salah satu Mal. Di sana saya seperti orang asing di tengah keramaian, karena sudah berada di lokasi yang berbeda Ras. Jika hanya beda Suku masih tidak terlalu terasa, seperti misalnya di Asia Tenggara atau Asia Timur.

Hingga pada pukul 10 malam kami sudah diantar ke bandara, kemudian berangkat selepas tengah malam. Kami akan transit di Abu Dhabi, serta langit sudah mulai terang saat akan mendarat. Kemudian menunggu beberapa jam di sana, bedanya sudah mulai terlihat wajah familiar Nusantara, karena banyak TKI atau jemaah dari tanah suci tetangga.


Hingga akhirnya kami berangkat menjelang siang, tapi karena rutenya itu ke timur, maka tidak lagi berkejar-kejaran dengan sinar matahari, tapi justru menghampiri langit petang lebih cepat. Kemudian sampai di tanah air pada malam hari, berakhir pula perjalanan rohani dari sana.