Sabtu, 22 September 2012

trip Bromo (Jemplang)


Salah satu tujuan yang sudah lama saya ingin datangi namun cukup jauh dari Jakarta adalah pegunungan daerah Bromo di Jawa timur, pada liburan lalu saya berkesempatan untuk kesana, setelah selesai Melihat Batu Malang, maka pada siang hari tanggal 07 Agustus 2012,  selepas mengisi perut di pasar Tumpang, saya pun mencari pangkalan ojek atau jeep yang dari info banyak menunggu penumpang tetapi tidak saya temukan satupun, hingga akhirnya saya bertanya ke salah satu petugas disana mengenai ojek yang dapat naik ke Bromo, kemudian diarahkan ke salah seorang dan memanggil temannya, kemungkinan dia karena saat bertanya tarifnya sebesar 150rb dan memang info yang saya ketahui sekitar itu.

si bang ojek pun akhirnya datang, maka saya bersiap untuk menuju Bromo mnelewati jalur selatan sebelah barat melalui Tumpang tersebut yang katanya memiliki pemandangan paling bagus, jalur dari Tumpang Malang ini akan bertemu dengan jalur dari Lumajang di sebelah selatan kaldera sebelum turun ke lautan pasir.

Dalam perjalanan maka saya meminta untuk berhenti dahulu di salah satu air terjun yang dinamakan Coban Pelangi, tiket masuk dan parkir senilai 7rb, untuk menuju ke air terjun jalannya cukup baik meski sengaja dibiarkan berbentuk jalan setapak tanah, sekitar setengah jam lebih maka saya sampai di dekat air terjun, cuacanya kala itu sedang kurang bagus, jika baik maka kita akan melihat biasan sinar matahari yang memantulkan pelangi.

Berbeda dengan beberapa air terjun yang saya kunjungi sebelumnya, jika kebanyakan air terjun memiliki debit air cukup terbatas karena saat itu Agustus 2012 merupakan puncaknya musim kemarau, maka di air terjun Coban Pelangi ini debit air yang mengalir sangat deras, percikan air yang mengalir sangat tinggi dan besar, tanpa mendekatpun dengan jarak beberapa puluh meter luapan air sudah membasahi tubuh dan kamera saya saat mengabadikan momen tersebut.

Tidak terlalu lama saya disini tidak sampai setengah jam, maka kami segera melanjutkan perjalanan, di pertengahan saya sempat bertanya ke si bang ojek apakah bisa mampir ke kebun apel, dimana dapat melihat buah apel yang masih tergantung di pohonnya, tetapi nampaknya saya agak telat bicaranya karena perkebunan apel sudah terlewat jauh ada dibawah, sementara saat bertanya jalur yang kami lalui sudah sangat menanjak dengan melewati beberapa desa, salah satunya desa Ngadas yang sempat masuk rencana saya untuk menginap.

Akhirnya saya sampai di tempat yang dinamakan Jemplang, karena disini pertemuan tiga jalur dari Malang, Lumajang, serta jalan untuk turun ke kaldera lautan pasir Bromo, disini saya meminta untuk berhenti sejenak untuk mengabadikan momen sekitar, saya jumpai pula beberapa jeep terbuka yang membawa turis asing juga naik dari Malang. Ketika hendak melanjutkan perjalanan sepertinya ada tukang ojek yang juga naik dari Malang menawarkan jasanya kepada saya untuk berkeliling Bromo keesokan harinya, karena tujuan umum para turis kesana adalah melihat matahari terbit di Penanjakan serta menaiki gunung Bromo.

Nampaknya kami beriringan jalan saat mulai turun ke kaldera Bromo tersebut, yang sebetulnya bernama kaldera gunung purba Tengger, seperti halnya gunung Dieng dimasa lampau, pada satu titik si tukang ojek seperti tidak dapat mengimbangi motor karena beberapa kali nyaris terpleset, kemudian berhenti sejenak untuk mengurangi angin ban supaya tidak terlalu licin, ketika berhenti tentunya saya langsung mengabadikan pemandangan sekitar, disana saya melihat tempat yang umum disebut dengan Bukit Teletubbies.

Beberapa kali saya meminta si bang ojek untuk berhenti karena saya ingin mengambil gambar serta hendak narsis sedikit, saya juga baru mengetahui jika lautan pasir hanya ada di bagian utara kaldera, sedangkan di bagian selatan lebih dikenal dengan sebutan padang savana, sekitar setengah jam perjalanan maka kami mulai sampai di jalur aspal menanjak yang masuk kawasan Cemoro Lawang sebagai gerbang wisata dari jalur Probolinggo. 

Tujuan pertama adalah mencari penginapan dahulu, kebetulan si tukang ojek yang jalan beriringan menawarkan jasanya kembali, tetapi saya juga bertanya dengan warga sekitar, hingga akhirnya mengambil penginapan yang per malamnya 125rb, saya mengambil untuk semalaman dahulu meski berencana dua malam disana.

Ketika melihat kamar dengan warga tadi, saya sempat menanyakan harga ojek ke beberapa tujuan seperti ke Penanjakan, air terjun Madakipura, dsb tetapi saat saya membandingkan kembali dengan harga si tukang ojek yang naik dari Malang ternyata cukup jauh perbedaannya, lebih masuk akal si bang ojek yang naik bareng sehingga saat itu saya memutuskan memakai jasanya saja untuk esok hari.

Saat hendak membayar biaya transport nampaknya si tukang ojek yang mengantar saya dari Tumpang menawarkan saya untuk mendekati gunung Bromo sore itu, tetapi karena sudah jelang pukul 4 sore maka sekedar mendekatinya saja untuk kembali sambil kembali foto narsis di beberapa titik.  Ketika hendak membayar saya memberi lebih karena jaraknya lumayan jauh sebesar 170rb, serta dianjurkan memakai jasa ojek yang tadi berbarengan selama di lautan pasir karena berasal dari tempat yang sama yaitu di Tumpang.

Pada petang hari saya sempat keluar dan melihat disatu titik pemandangan lautan awan dengan suatu gunung yang menjulang dengan puncaknya yang lebar, sepertinya gunung Raung. Pada saat yang sama saya jumpai seorang turis asing wanita yang menjadi solo travelling dari Jerman, serta melakukan negoisasi dengan warga setempat untuk biaya transport ojek keesokan harinya, nampaknya turis tersebut modelnya sama dengan saya hanya sendiri sehingga pilihan naik ojek lebih hemat ketimbang jeep. 

Malam itu tidak banyak yang dapat saya lakukan disana, kebetulan kamar yang saya ambil seperti suatu villa yang memiliki dua kamar, kamar sebelah saya ksong sehingga seperti menyewa villa. Saya mengisi perut disalah satu warung sebelum beristirahat untuk bersiap bangun pada subuh dini hari keesokannya Menikmati Bromo (dan sekitarnya)





Tidak ada komentar:

Posting Komentar