Minggu, 24 Mei 2020

Tenaga Dalam



"Tenaga Dalam? Wih hebat bener kalo bisa."
"Bisa-bisa aja, apa sih yang kaga bisa?"

Untuk cerita kali ini saya ingin mengangkat tentang tema Tenaga Dalam. Mungkin terdengar aneh, karena itu sesuatu yang jauh dan kurang masuk akal. Faktanya memang demikian, tapi bukan tidak mungkin dicapai, tentunya dengan disiplin ilmu yang tinggi, alias tetap berlaku secara ilmiah.

Saya jadi teringat dengan film-film zaman dulu, khususnya film kungfu di penghujung abad dua puluh. Banyak judul yang beredar, mulai dari Kembalinya Pendekar Rajawali, Pedang Membunuh Naga, dsb. Hampir seluruhnya punya kemiripan, yaitu ada senjata rahasia dari tokoh-tokohnya, berupa tenaga dalam, bisa dikeluarkan hanya dengan perantaraan telapak tangan.


Terdengar aneh? Mungkin saja. Tapi itu pada akhirnya hanya sebuah film. Untuk masa kini film-film sejenis lebih dibuat masuk akal, seperti film IP Man, karena seni bela diri lebih menekankan teknik gerakan. Tidak lagi menggunakan adegan "Tenaga Dalam" yang bisa dikeluarkan atau ditransfer dengan mudah. 

Dengan demikian apakah Tenaga Dalam itu hanya dongeng? Jawabannya tentu tidak. Yang namanya tenaga dalam itu bukan tidak ada, karena sesuai kata dasarnya, tenaga dalam artinya sebuah kekuatan yang berasal dari dalam diri. Bisa saja keluar tiba-tiba, misalnya seseorang yang bisa berlari secepat kilat ketika dikejar anjing, hal itu karena pengaruh keadaan dari sekeliling. Xp

Tapi ketika iseng-iseng nonton film kungfu zaman dulu itu. Ada sebuah percakapan menarik, hingga Tenaga Dalam itu bisa terdengar lebih masuk akal. Salah satu yang saya temui, ketika Yoko mentransfer tenaga dalamnya ke bibinya. Nah bibinya itu berkomentar "tenaga dalam" Yoko itu kuat.  Kata yang dipakai untuk tenaga dalam di percakapan itu adalah "Batin", dari sini jalur ilmiah mulai terbuka dengan sendirinya. 

Batin itu pengertian dasarnya berasal dari dalam diri, atau dari hati. Hingga dua kutub utama dalam diri seseorang mulai terbentuk, keduanya adalah tentang batiniah dan lahiriah. Kembali lagi artinya Batin itu menyangkut keyakinan, psikologi, serta suasana hati yang berasal dari dalam. Bisa juga disebut sebagai inner beauty, atau dalam spiritual disebut iman.

Apakah batin itu bisa dibangun? Sangat bisa. Untungnya saja di film kungfu zaman dulu itu, Tenaga Dalamnya sebatas untuk senjata, atau ditransfer untuk pemulihan orang lain. Bukan yang ditransfer seketika agar orang lain bisa punya tingkat tenaga yang sama. Artinya setiap tokohnya perlu berupaya untuk membangun tenaga dalamnya sendiri. Bahkan film masa kini juga mengangkat porsi tenaga dalam dengan lebih ideal. Artinya tenaga tersebut tidak bisa dicapai dengan mudah. 

Film yang menggambarkan dengan baik adalah Kungfu Panda 3. Adegan saat tokohnya diceritakan terbawa ke alam lain, tapi teman-temannya sesama Panda bisa memberi bantuan. Mereka akhirnya berusaha keras mengeluarkan tenaga dalam, digambarkan sebagai doa keyakinan dan iman, hingga bisa membangun kekuatan "chi" dari masing-masing mereka. Imbasnya? Tenaga dari luar pun turut terlibat di dalamnya.

Tenaga dari Luar? Maksudnya? Selain Tenaga Dalam yang memang sudah ada, terdapat pula Tenaga yang berada di luar jangkauan logika kita, tapi mereka ada sebagai bagian dari Pencipta. Untuk contohnya adalah kekuatan yang membantu tokoh Panda tadi di alam lain, dengan bantuan perantaraan "Tenaga Dalam" dari teman-temannya.

Jadi bukan tidak mungkin kita bisa membangkitkan Tenaga Dalam di diri kita sendiri. Situasi turut membantu kita agar bisa fokus maksimal, jadi beberapa di antara kita punya waktu menyepi masing-masing, seperti saat teduh, meditasi dsb. Intinya suatu keadaan yang sunyi dan tidak akan mengganggu batin kita untuk fokus pada sesuatu. Jadinya situasi dan kondisi justru bisa menuntun seseorang, guna mewujudkan keyakinan dari masing-masing pribadi.

Bagaimana membentuk dan mempercantik batin kita? Semuanya akan kembali lagi pada usaha dan sikap kita. Karena segala sesuatunya sudah ada, bahkan sudah kita dapat dalam berbagai pengajaran. Hanya tinggal kitanya mau apa tidak, yakin atau tidak, itu kunci pentingnya.

Sisi lain yang tidak boleh dilewatkan juga, bagaimana kitanya sendiri? Motif dan keinginan juga dapat berpengaruh dalam skenario alam. Apakah kita sudah layak untuk menggunakan kekuatan tersebut? Atau apakah kita sudah siap untuk dibantu Tenaga Luar di sekeliling kita? Selain hukum sebab akibat, ada juga hukum tambah kurang bagi kali, bahkan kuadrat. Setuju?


"Lihatnya biasa aja donk Ko, jadi baper nih."
"Bercanda aja itu orang."
"Itu kayaknya gak bercanda, beneran serius ngomongnya."
"Ah serius? Mungkin itu yang disebut tenaga dalam."
Xp



Update 2024 =
Pada akhirnya ada penambahan tulisan untuk bahasan ini, itu karena saya baru mendapat data terbaru mengenai tema ini. Jadi menarik juga untuk dilengkapi, sebagai cara kita untuk belajar dan memahami bagaimana Tenaga Dalam bekerja. :P

Pada kesimpulan bahasan Tenaga Dalam di atas, baru diangkat di tulisan selanjutnya di sini. Singkatnya bahwa berbicara dalam hati atau pikiran itu adalah sebuah bentuk Tenaga Dalam. Awalnya saya menganggap itu sangat sederhana, semua orang juga pasti bisa, tidak mungkin tidak ada yang bisa. Tapi ternyata data yang didukung penelitian berkata sebaliknya, lengkapnya coba kita simak video di bawah ini.
Sumber di sini.

Bahkan ada nama ilmiah untuk berbicara atau berkomunikasi dalam hati ini, namanya itu Inner Monolog, alias Monolog di dalam (hati). Bagaimana dengan yang tidak bisa berbicara dalam hati? Apakah jadi tidak punya Tenaga Dalam yang dibahas di sini? Jawabannya mungkin tetap ada, tapi berlaku di bidang dan kategori lainnya kemungkinan.

Orang yang tidak berbicara dalam hati, tentu punya bahasa dan tingkah yang berbeda juga. Istilahnya kalau pakai bahasa gaul, tidak pakai mikir, kalau mau sesuatu yah langsung lakukan saja. Jika diibaratkan dalam gaya hidup, mungkin saja barisan orang ini adalah Man of action, alias selalu beraksi dalam setiap waktu. :P

Saat membaca beberapa komentar di data terbaru itu, akhirnya saya juga menemukan sedikit perbedaannya. Mereka yang bisa inner monolog, kemungkinan lebih punya daya khayal (imajinasi) yang lebih luas, alias gemar membayangkan sesuatu dalam pikiran, hingga berimbas pada reaksi (bicara) dari dalam diri sendiri.

Sementara bagi mereka yang tidak atau kurang punya kemampuan inner monolog, daya khayal mereka tidak terlalu luas, tapi sangat fokus pada sesuatu hal. Misalnya saat lapar, yang dibayangkan adalah perutnya yang keroncongan, atau makanan apa yang ingin disantap, kemudian langsung lakukan. Jadi tidak sempat, atau belum ada minat untuk berkomunikasi dalam ranah batin.

Jadi apakah Tenaga Dalam itu bisa kita miliki? Bisa saja kalau kita ada kemauan untuk punya anugeras tersebut, sesederhana itu hukumnya. :D

"Bukan rahasia bila imajinasi, 
lebih berarti dari sekadar ilmu pasti."
Dewa (Bukan Rahasia)