Minggu, 10 Mei 2020

eksplore KL Genting (Dua)


Jika bagian rute jalan-jalan Phuket dan Singapura sudah ditulis di sini dan sini, maka giliran tujuan Malaysia ikut saya ceritakan. Sebetulnya ringkasan ceritanya juga sudah diangkat di sini, tapi tulisan tersebut hanya fokus pada perbandingan, bukan tentang catatan perjalanannya.

Ini adalah kunjungan ketiga saya. Pertama itu masih dalam rute ulangan yang sama di sini di tahun 2011. Sedangkan yang kedua hanya sekedar transit di KL, kemudian berlanjut dengan tujuan utama pulau Langkawi menjelang kepulangan. Perjalanan versi tahun 2013 itu memang belum saya ceritakan, tapi video perjalanannya sudah tersedia di sini. :))

Cerita diawali dengan keberangakatan saya tanggal 27 Maret 2019 menjelang tengah malam. Kemudian sampai di bandara KLIA2 dan hanya transit semalam di sana, sebelum berangkat lagi ke Phuket esok paginya. 

Jadi pada hari pertama itu hanya jalan-jalan di bandara saja. Akhirnya mengetahui juga bentuk bandara baru tersebut bagaimana, yang ternyata cukup luas juga, serta menyatu dengan tempat komesial sejenis plaza di depannya. Kemudian untuk menggunakan transportasi bis tersedia di lantai bawah, serta banyak tersedia kursi kosong di sana, meski sudah keluar dari ruangan ber-AC.

Menunggu hingga pagi menjelang, tapi mata cukup segar saat melewati malam pertama. Selepas subuh baru masuk ke gedung terminal, melewati bagian imigrasi. Suasana di dalam cenderung lebih nyaman dalam ruangan ber-AC. Kemudian banyak tersedia kursi untuk beristirahat. Setelah diperhatikan, batas waktu terjauh masuk gedung terminal itu bisa 6 jam sebelum jam keberangkatan. Hingga akhirnya saya meninggalkan Malaysia sejenak, sebelum kembali lagi nantinya.


Ceritanya berlanjut lagi beberapa hari kemudian, saat baru kembali dari Phuket menjelang siang hari. Kali ini saya baru memasuki kota. Salah satu yang berbeda dengan sebelumnya, kali ini akhirnya saya juga bisa menikmati perjalanan itu sendiri, selama melaju di transportasi bis umum yang digunakan, karena sudah tidur cukup dan tidak langsung tepar saat duduk di dalam bis. Xp

Saya sampai di KL Sentral lagi setelah sekian lama. Baru tahu ada perubahan mencolok di sana, karena sudah menyatu dengan Mal di belakangnya. Pada siang itu langsung membeli cemilan Pizza di jembatan penghubung menuju Mal,  sebelum langsung menuju daerah chinatown menggunakan LRT, karena saya akan menginap di sana.

Saya sampai di stasiun Pasar Seni, sebagai pintu masuk Chinatown dan Jalan Petaling sebagai ikon wisatanya. Menginap tidak jauh dari sana, ternyata salah satu pegawainya sudah sering bolak-balik ke Indonesia, sampai tahu daerah Kebon Jeruk hingga Cengkareng. Beristirahat sejenak di sana lempengin kaki.

Saya baru keluar itu menjelang sore, pertama-tama hanya jalan di sekitar daerah sana, hingga sampai kawasan Puduraya. Jadi mengetahui bahwa sebetulnya daerah wisata pusat kota ini jaraknya berdekatan, tapi tersedia banyak stasiun menyebar hingga tidak perlu jalan jauh. Hingga akhirnya masuk stasiun kembali dan keluar di KLCC menjelang petang.

Tidak ada yang berubah di KLCC, saya di sana hingga langit sore berubah menjadi malam. Kemudian santap malam di dalam Mal-nya, menu chicken rice yang banyak bertebaran, layaknya menu nasi uduk di Jabodetabek. Hingga kembali ke penginapan dan beristirahat.

Esoknya baru berencana datang ke tujuan "baru", setelah cek-out dari penginapan. Karena sudah melihat peta yang jaraknya tidak terlalu jauh, maka saya memutuskan jalan kaki saja. Tujuan pertama adalah Taman Eco Park KL, lokasinya tidak jauh dari jalan Pudu.

Salah satu yang menarik di sini adalah jembatan canopy di antara pohon-pohon tinggi di sana. Saya memutari jembatan tersebut dan mengetahui bahwa taman itu terhubung, serta mengelilingi lokasi KL Tower di tengahnya. Pada sisi taman yang lain hanya tersedia jalan setapak, tidak ada lagi jembatan sejenis.

Hingga selepas siang langsung bergerak lagi ke tujuan berikutnya. Jalan kaki lagi menuju Masjid Jamek, karena kawasan itu salah satu yang terkenal di sana. Hingga baru tahu ternyata ikon wisatanya itu berdiri satu bangunan di belakangnya. Kemudian ada juga lapangan di seberangnya yang bernama Dataran Merdeka, serta ada pertunjukan air juga bernama Jam Detik di ujung jalannya.

Saya di sana hingga menjelang sore dan bersiap balik ke bandara. Ceritanya selanjutnya adalah ke Singapura di sini

Kemudian cerita berlanjut lagi dua hari kemudian, saat saya sampai di perbatasan Johor Bahru. Naik bis menuju terminal Larkin selepas jam 10 malam, kemudian  mendapatkan bis yang berangkat pukul 11 malam ke KL. Dari sana bis masih menjemput penumpang di terminal lain, hingga mulai meninggalkan kota dan saatnya tidur dalam perjalanan.

Pada menjelang subuh sudah sampai di Terminal Bersepadu Selatan, menunggu sampai jam kereta KRL beroperasi kembali di pagi hari. Menuju ke KL Sentral lagi dan langsung membeli tiket bis menuju Genting, serta menikmati perjalanan ke sana dari jendela. Berbeda dengan versi dahulu yang otomatis tertidur jika duduk di bis.

Jalan untuk menuju terminal Genting ada dua jalur. Masing-masingnya satu arah naik dan turun, hingga kondisi jalan cukup lancar. Sampai di terminal keberangkatan kereta gantung, saya naik skyway warna putih yang model lama, berhentinya di ruang komersil dekat Hotel Maxims, atau yang dulunya bernama Hotel Genting Highland. 

Sementara itu ada juga skyway model baru berwarna merah, berhentinya langsung di Mal First World, meski hal itu baru saya ketahui pas mau pulang dari sana.

"Katanya naik kereta gantung yang model lama lebih enak. Jalannya lebih pelan dan bisa nikmatin suasana" ujar teman saya, ketika yang bersangkutan juga pergi di waktu berlainan.

"Untung gue kemarin bisa naik dua-duanya. Bedanya kereta yang baru bisa stop langsung di kuil Chin Swee" jawab saya, mengangkat keunggulan lain model baru kereta gantung tersebut.

Saya melakukan cek-in di mesin yang banyak tersedia di sana. Untuk cek-in sebelum pukul 3 sore akan dikenakan biaya tambahan 5RM. Jadi saya sudah bisa santai di kamar pukul 10 pagi tersebut, kemudian beristirahat sejenak di sana lempengin kaki. :D

Kemudian tidak pakai lama saya langsung keluar lagi. Pukul 11 siang menuju kuil Chin Swee menggunakan shuttle bis. Lokasinya itu persis di depan lobi hotel saya menginap, dengan beberapa jadwal keberangkatan. Dari jadwal yang tersedia, maka jam terdekat untuk kembali itu ada di pukul 1 siang, hingga punya waktu dua jam untuk jalan-jalan di sana.

Pertama kalinya juga saya ke sana, hingga mengabadikan suasana di sana untuk kenang-kenangan. Ada patung Budhha berukuran besar berdiri dan patung Dewi Kwan In, serta adanya cerita-cerita yang tergambar di patung-patung kecil lainnya. Ada juga sebagian pengunjung beribadah di sana. Selain dua patung besar sebagai ikon wisata, juga berdiri satu bangunan berupa pagoda.

Sempat juga saya menemukan eskalator tinggi yang naik beberapa kali, awalnya saya mengira akan berujung di atas, tapi belakangan diketahui susunan eskalator itu menuju ke stasiun skyway yang baru. Hal itu cukup menjawab pertanyaan saya, karena saat naik bis saja jaraknya dari atas lumayan jauh, kalau pakai eskalator tentu akan gempor juga. Xp

Pukul 1 siang sudah kembali ke atas. Mulai jalan-jalan lagi di sana. Mulai ada yang berubah di sini, karena theme park di dalam Mal First World sudah berubah bentuk. Sementara untuk theme park bagian luar sedang ditutup dan direnovasi. Kemudian Mal yang beroperasi jadi agak meluas ketimbang dulu. 

Menikmati suasana di sana hingga mencari posisi terdekat, untuk mendapatkan view Hotel First World yang berwarna-warni tersebut. Hingga paginya menikmati suasana kembali di halaman Hotel Maxis, dengan kabut yang mengelilingi sekitar. Udaranya cukup sejuk dan tidak terlalu dingin.

Hingga kepulangan saya menjelang siang. Awalnya agak heran saat ingin turun, kenapa skyway yang naik dari hotel Maxim tiba-tiba berhenti beroperasi, bagaimana jika ada yang mau turun? Diarahkan untuk menaiki bis atau skyway baru dari Mal. Hingga baru mengetahui bahwa kereta gantung berwarna merah, berlokasi di dalam Mal dan sudah saya lihat berkali-kali, ternyata merupakan skyway jenis model baru. Rutenya juga ke bawah dan melewati stasiun Chin Swee di tengah-tengah.

Pukul 2 siang sudah kembali ke KL Sentral, kemudian menaiki monorail yang lokasi stasiunnya ada di depan Mal NU Sental yang bersebelahan. Hari itu saya akan menginap di daerah Bukit Bintang di ujung Jalan Alor.

Sorenya hanya jalan-jalan di sekitar hotel saja, hingga sampai ke Berjaya Times Square yang lokasinya dekat stasiun monorail Imbi. Tapi jaraknya tidak terlalu jauh dan bisa jalan kaki. Dari info yang saya baca di sana punya theme park dalam ruangan. Tapi saya tidak masuk ke dalamnya, karena tidak beda jauh dengan theme park Lippo Karawaci.

Oh iya awalnya ada rencana untuk mengunjungi Sunway Lagoon. Awalnya saya mengira itu seperti kompleks wisata layaknya Genting. Tapi ternyata hanya berupa wisata air saja, layaknya Waterboom atau Atlantis Water Advanture di Ancol. Jadinya tidak jadi ke sana, karena jaraknya juga lumayan jauh dari pusat kota KL.

Bahkan awalnya saya juga masih mau eksplore tujuan baru, seperti daerah pantai Port Dickson atau Hutan Lipur di kawasan Seremban. Tapi karena sudah tidak mau terlalu ribet, akhirnya hanya wisata kota KL atau yang dekat-dekat saja. Untuk menjelajahi wisata alam, sepertinya di rumah sendiri juga sudah ada di kawasan Bogor, tidak akan bosan juga meski sudah berulang kali ke sana.

Malamnya baru keluar hotel di ujung Jalan Alor, meski awalnya hujan turun membasahi daerah tersebut. Hingga berhenti dan keluar dengan suasana mulai ramai. Santap malam di sana sekaligus mengabadikan suasana untuk kenang-kenangan. Berleha-leha hingga esoknya menjelang siang cek-out dari hotel, kemudian kembali ke KL Sentral dengan naik jenis kereta MRT yang baru saya naiki selama di sana.

Hari terakhir sudah kembali ke KL sentral dan menitipkan tas di loker yang tersedia di sana. Tujuan berikutnya ingin datang ke Batu Caves (lagi), tapi setelah ditunggu beberapa lama, kereta yang menuju ke sana tidak pernah datang. Ternyata memang sedang tidak beroperasi penuh, hingga dianjurkan naik bis untuk sampai stasiun tertentu, dari sana baru bisa mengakses kereta rute Batu Caves tersebut.

Tapi karena waktunya sudah semakin sore, saya akhirnya membatalkan niat tersebut, plus karena sudah pernah ke sana juga lebih tepatnya. Berganti menuju tujuan terakhir, yaitu Taman Perdana KL, lokasinya tidak jauh dan hanya berjarak satu stasiun dari KL Sentral. Di sana terdapat danau yang disebut Tasik dalam bahasa Melayu.

Menikmati suasana hijau di sana, meski dengan cuaca cukup terik. Jalan memutar dan keluar di pintu yang lain. Posisi pintu yang lain sudah di dekat Muzium Negara, tinggal menyeberang untuk kembali ke KL Sentral. Menunggu di sana hingga sore, karena sudah bingung juga mau ke mana.

Akhirnya selepas petang saya kembali ke bandara. Sudah mulai bersiap untuk penerbangan keesokan harinya. Hingga tengah malam masih menunggu di lobi ruang cek-in, kadang juga jalan ke bawah ke lobi kedatangan, di sana banyak tersedia kursi. Kemudian jadi bawa oleh-oleh aneka macam kopi, beli di mini market di sana. Xp

Menjelang subuh mulai masuk ke bagian imigrasi, di dalam gedung terminal tempatnya lebih nyaman untuk menunggu, hingga bisa selonjoran lebih adem dan nyaman. Kemudian sisa ruang tas yang sangat kecil juga dimanfaatkan, untuk jajan beberapa merk cokelat di kios Duty Free. :9

Jika di dua bandara lain Phuket dan Singapura saya bisa memejamkan mata sejenak. Di bandara KLIA2 ini saya tidak bisa memejamkan mata, entah kenapa. Mungkin karena sudah bosan dan ingin segera pulang, alias tidak perlu menyimpan tenaga lagi karena tujuan selanjutnya sudah habis. :D