Selasa, 07 Februari 2012

eksplore Singapura



Perjalanan di Singapura ini termasuk salah satu rute tujuan saya, saat liburan pada Desember 2011 yang lalu. Satu tempat yang cukup buat penasaran, karena siapa saja sudah dapat pergi ke sana, tapi baru saat itu giliran saya ke sana. :D

Saya memulai merasakan atmosfer negara itu pada saat subuh, ketika menaiki bus milik Singapura SBS Transit, yang beroperasi hingga terminal Larkin di Johor Bahru. (Bisa juga naik bus Causeway Link milik Malaysia). 

Memasuki terminal pada pukul 5 pagi, setelah beberapa jam sebelumnya dari turun bus dari Kuala Lumpur.


Para penumpang sudah mengantri membentuk barisan untuk naik, cukup tertib tanpa harus diatur oleh petugas. Cara bayar tiketnya dengan memasukkan uang ke dalam box, kemudian ambil tiket dari mesin kecil. 

Saya kurang paham cara mengambilnya, hingga sempat duduk dan bertanya kembali lagi ke si pak supir, bagaimana ambil tiketnya? Eh si supir dengan logat mandarin seperti membentak2 dengan kata "take it" berulang kali, menunjuk ke mesin kecil tadi. Tidak tahunya tiket saya sudah terambil sama penumpang setelah saya, hingga yang bersangkutan mengembalikan seracik tiket kecil itu ke saya. :P

Bus cukup penuh dengan penumpang yang akan ke Singapura, kebanyakan warga yang mungkin akan berkerja. Jalan selama beberapa menit, hingga bus terkena macet dan pintu mulai terbuka ketika alarm berbunyi. 

Para penumpang langsung turun, saya juga mengikuti kerumunan mereka, yang pastinya akan masuk ke bagian imigrasi. (Saya pernah membaca info tentang penumpang harus jalan sendiri ke imigrasi, serta akan menaiki bus dengan nomor rute yang sama saat selesai)

Jalannya cukup jauh tetapi kita seperti gerombolan besar menuju ke sana. Naik ke bagian imigrasi di dalam gedung, kemudian sudah tersedia antrian sesuai bus yang dinaiki saat turun. 

Saya naik dan bus melaju melintasi jembatan untuk menyebrang ke daratan Singapura, setelah sampai saya kembali berjalan, untuk masuk imigrasi dari negera yang berbeda, tapi kali itu sudah dekat, karena bus berhenti tepat di depan gedungnya.


Waktu menunjukkan masih pukul setengah 6 pagi, saat saya sampai di MRT Kranji tempat bus berhenti. Bersamaan dengan mulai banyaknya orang berdatangan. Tujuan saya adalah stasiun Ang Mo Kio dengan harga 3 SGD, karena di sana stasiun terdekat yang menjual tiket STP (Singapore Tourist Pass), tiket MRT unlimited harian, hanya diperuntukkan bagi wisatawan asing dan dapat dibeli untuk jangka waktu 1-3 hari.

Jarak yang ditempuh dari Kranji lumayan jauh, karena dari utara pulau akan bergerak ke bagian tengah. Pukul 7 pagi tiba di Ang Mo Kio, menunggu hingga counter buka jam 8 pagi. Mengamati suasana sekitar, yang semakin lama semakin ramai dengan aktifitas warga berlalu-lalang.


Menunjukkan paspor sebagai syarat pembelian tiket STP, mengambil jangka waktu 2 hari. Biaya dalam satu hari adalah 8 SGD, plus deposit 10 SGD sebagai jaminan, serta bisa diambil kembali saat pengembalian kartu. Jadi saya sudah mendapatkan kunci untuk transportasi bebas ribet, jika dibandingkan dengan kartu EZ-Link biasa yang cukup malah dalam satu kali trip. 

Setelah mengantongi tiket MRT terusan itu, maka saya langsung menuju stasiun Orchard, sebuah lokasi yang jadi magnet tersendiri. Hingga cukup merasa aneh saat tiba di sana, karena suasananya cukup lenggang dan tidak seperti yang dibayangkan. Menyeberang dan ikut beberapa warga ke arah taman,  ternyata jalan tersebut berujung di satu sekolah. 

Awalnya saya belum mengetahui kalau setiap stasiun memiliki banyak pintu keluar. Pagi itu saya keluar di jalan Orchard Boulevard yang tidak terlalu ramai, hingga langsung menuju stasiun lain.


Sinyal Wi-Fi dapat diakses di tempat umum, meski tidak mudah untuk langsung connect. Online dari Wi-FI inilah yang jadi andalan saya, berkomunikasi chatting dengan teman yang sudah lebih dahulu datang ke sana, karena berencana untuk jalan bersama selama saya di sana.

Tujuan selanjutnya adalah stasiun City Hall, satu lokasi yang terintegrasi dengan Mal. Tidak terlalu lama hanya sightseeing sebentar. Pada saat itu waktu masih pukul 9 pagi lewat, rencana ingin check-in hostel nampaknya masih terlalu pagi.


Akhirnya saya berencana ke airport Changi, dari rute semula jalur merah maka saya beralih ke jalur hijau, karena stasiun City Hall itu merupakan pertemuan 2 jalur MRT yang berbeda rute. Untuk ke Changi maka menjelang stasiun terakhir harus berpindah jalur. Saat hendak berpindah sepertinya intensitas perjalanannya agak lama, hingga membatalkan rencana tersebut karena waktu sudah jelang pukul 10 siang.


Selanjutnya bergerak menuju stasiun Bugis, tempat saya membooking hostel. Cukup sulit juga mencari navigasi arah untuk dicocokkan ke peta Google Maps yang saya print. :P

Akhirnya setelah mencari2 dan mencocokan nama jalan, saya berjalan dan menemukan jalan Pinang tempat hostel saya berada. Pukul 10 pagi itu termasuk earlier check-in, sehingga petugas hostel bertanya terlebih dahulu. Saya jelaskan hanya menitipkan tas yang dibawa karena akan langsung keluar berkeliling.



Memanfaatkan sinyal Wi-Fi yang gratis di tempat umum, tujuan hari itu adalah ke pulau Sentosa. Menuju ke stasiun Harbourfront setelah berganti ke jalur ungu di stasiun Quantum Park, tiba di sana pukul 11.00 lewat.

Jalur keluar langsung di dalam Mal Vivo, kemudian naik ke lantai paling atas untuk menuju ke Sentosa Station, sebagai tempat keberangkatan. Di sana saya menunggu teman cukup lama dengan tempat bertemu yang minim info, karena sinyal Wi-Fi gratisan yang susah di akses. Mengirimkan pesan singkat SMS pulsa langsung terpotong 3rb rupiah sekali kirim.

Bertemulah saya dengan mereka dan bareng2 menuju Sentosa, kemudian di pemberhentian stasiun pertama kami langsung keluar. Menjadi satu lokasi populer wisata Universal Studio. Kala itu kami tidak ada rencana bermain di sana, karena hanya ingin menikmati suasananya saja. Kembali menyusuri jalan hingga ujung, serta melihat tulisan besar Sentosa Island di bukit dan air terjun buatan.


Pacar teman saya menerangkan jika dulu suasananya tidak seperti itu, ada juga patung Merlion, hingga sempat mencari lokasi yang dimaksud. Beberapa kali jalan sana-sini tidak ketemu, serta baru paham ketika melihat brosur, karena ternyata terdapat beberapa pemberhentian  stasiun di sana. Lokasi yang diinginkan ada di pemberhentian kedua bernama stasiun Imbiah. Tapi karena sudah jalan lumayan jauh, ada pula jalan tembus untuk bertemu singa Merlion itu. Nah dari sejak itu saya mulai lupa-lupa ingat cerita selanjutnya. :D

Sesampainya di Patung Merlion seperti biasa saling berfoto satu sama lain. Kemudian kami cukup tergoda untuk bermain di salah satu permainan yaitu Luge.



Permainan Luge ini sejenis balapan gokart tanpa mesin, karena jalurnya itu menurun ke bawah. Kecepatan di atur oleh pegangan tangan kita yang berfungsi sebagai rem. Kami cukup lama diskusi, karena harganya juga lumayan tinggi, tapi jauh lebih murah dibanding masuk Universal Studio.

Teman saya sampai berkali2 bertanya dengan petugas dengan bahasa mandarin, sampai akhirnya membeli tiket permainan untuk 2x main Luge dan 2x naik Skyway.  Permainan  akan menurun sampai ke bawah, dan di bawah adalah tempat awal untuk menaiki Skyway, sejenis ayunan gantung yang melintasi bukit dan berakhir di tempat kami memulai permainan Luge.

Pada kesempatan pertama kami jlangsung naik Skyway kembali ke atas. Berbeda dengan kesempatan kedua, karena kami berjalan-jalan lebih lama di bawah, hingga bermain di tepian pantai Siloso. Di sana saya sudah tidak ingin menyentuh air, karena telapak kaki mengalami kapalan cukup parah, gara2 main air terus sewaktu di Phuket.




Setelah puas main di daerah pantai, kami kembali menaiki Skyway kembali ke atas. Kemudian dilanjutkan dengan menaiki bus shuttle yang jalan setiap beberapa menit. Mengistirahatkan kaki saat berada di dalam bus kecil, hingga sampai pada sisi lain pantai.

Jelang pukul 4 sore nampaknya saya sudah puas menjelajahi pulau Sentosa, hingga ingin selesai dan tidak disetujui teman saya, karena yang bersangkutan tidak mau rugi ingin sampai gelap katanya. Saya kurang setuju, karena semua lokasi sudah dihampiri, yang diaminkan oleh pacarnya. :D

Saat akan bergerak ke daerah lain, tidak terasa saya belum mengisi perut. Terakhir makan berat itu saat pagi subuh di terminal Larkin, sebelum naik bus masuk ke Singapura. Ketika akan kembali, kami menikmati dulu suasana sekitar, berlokasi di Mal Vivo dan berjalan ke luar ruangan.

Tujuan kami selanjutnya, atau lebih tepatnya saya adalah daerah Chinatown. Dari stasiun Harbourfront dapat langsung karena masih satu jalur. Jalan2 sightseeing kembali sambil mencari tempat untuk makan, mengisi perut di sana. 

Daerah ini mirip seperti jalan Gajah Mada dan Hayam Wuruk, tetapi lebih luas. Kami hanya menyusuri tepi jalan besarnya saja, karena akan mengejar waktu ke tempat lain.




Tujuan berikutnya adalah Orchardz, pada saat itu suasana menjelang Natal dan teman saya merekomendasikan jalan2 di sana pada malam hari. Dari sana maka kita menuju stasiun Dhoby Ghaut, di stasiun ini ada pertemuan tiga jalur yang berbeda, antara jalur ungu yang dinaiki sebelumnya, kuning dan merah. Karena kami akan ke Orchardz maka kami berganti ke jalur merah dan keluar di sana pas petang hari pukul 6 sore.


Tidak seperti siangnya di mana saya berpendapat sepi, tetapi pas keluar ternyata sangat ramai di jalan Orchard Road, baru saya ketahui setiap stasiun MRT memiliki beberapa tempat keluar yang berbeda. 

Malam itu kami hanya berjalan kaki saja, menikmati suasana sambil sedikit2 berfoto. Suasana Natal terasa dengan banyaknya pohon natal di sepanjang jalan, serta jajaran toko2 berlabel terkenal. Kami tidak masuk ke salah satu toko karena tidak ada tujuan berbelanja. :D


Hanya ada satu toko unik yang kami masuki karena unik yaitu House of Condom, sebentar saja sih karena tokonya kecil. Jalan kaki sampai ketemu lampu lalu lintas, kemudian kami menyeberang untuk jalan berbalik arah di depan toko Takashimaya. 

Pada malam itu kaki berasa pegal untuk beristirahat, setelah dua malam sebelumnya tidak bertemu dengan kasur. Xp



Jelang pukul 9 malam saya memutuskan selesai karena sudah terlalu lelah. Kami kembali mencari2 pintu MRT, teman saya berpindah ke jalur ungu di stasiun Dhoby Ghaut, karena mereka tinggal agak menjauh dari kota dekat stasiun Sengkang. Kemudian saya keluar di stasiun City Hall, untuk berpindah ke jalur hijau ke Bugis, hingga sampai di hostel pada pukul setengah 10 malam, langsung tertidur lelap. :D



Saya tidur cukup nyenyak dan bangun pukul 7 pagi, keluar kamar langsung melahap breakfast yang disediakan, yaitu roti panggang isi telur. Sempat berbincang singkat dengan turis aInggris, seorang wanita yang jalan sendiri mengatakan biaya hidup di Singapura sangat tinggi, saya meng-iyakan karena dari 3 negara di Singapura inilah seluruh biaya lebih besar.

Hari itu langsung check-out pukul 8 pagi, menitipkan tas backpack untuk diambil sore harinya dan dikenakan charge. 

Ketika keluar hostel, maka tujuan awal saya menjelajahi daerah Bugis terlebih dahulu, karena di sini daerah yang cukup terkenal. Jalan kaki ke ujung jalan dan memasuki Mal Bugis Junction yang mirip2 seperti Paris Van Java di Bandung, karena memiliki ruang terbuka. Setelah selesai eksplorasi daerah itu saya bergegas ke tempat lain.



Di sini saya mulai lupa ke mana saja tujuannya, yang pasti saya keluar masuk stasiun yang cukup terkenal untuk sekedar sightseeing. Ada yang durasinya asal lewat cuma lihat2 sebentar, terus ada juga yang lumayan agak lama untuk menikmati suasana sekitar. 

Stasiun yang singkat saya kunjungi adalah Marina Bay, Lavender, Aljunied (Geylang), Ferrer Park dan Little India. Saya tidak berlama2 di sana hanya jalan sebentar untuk melihat suasana, karena tidak ada yang terlalu menarik di sana.





Khusus untuk Marina Bay itu letaknya itu sudah sangat dekat dengan gedung Marina Bay Sands. Tempat yang sudah menjadi salah satu objek wisata. Bedanya saya tidak menemukan keramaian, atau tidak menemukan jalan tembus untuk ke sana. Stasiun ini menjadi tujuan terakhir di jalur merah.


Sedangkan kawasan yang agak lama saya nikmati salah satunya adalah Clarke Quay. Sebelum pergi beberapa bulan sebelumnya, saya sempat booking hostel di daerah ini, tetapi tidak jadi. Saat sampai saya juga lupa kalau ada objek menarik di sana, hingga hanya sekadar jalan saja. Tapi karena nama kawasan itu sepertinya cukup familiar, sampai di ujung jalan saya menemukan satu sungai, kemudian melihat tempat yang cukup terkenal untuk berfoto2.



Daerah lain yang saya kunjungi adalah di stasiun Raffles Place, di sini juga terdapat ruangan terbuka untuk menikmati suasana. Tidak terbuka seluruhnya karena ada bidang yang dibuat zona hijau, tetapi agak tinggi sehingga sepeti pagar, banyak orang2 yang berlalu-lalang hendak bekerja dan terdapat Plaza di sana.




Daerah selanjutnya adalah stasiun Somerset, ini rekomendasi dari pacarnya teman saya. Keluarnya sudah di salah satu Mal, jalan sebentar ternyata kawasan ini berada di ujung jalan Orchardz Road sebelah selatan, hingga saya juga mendapatkan suasana Orchardz di siang hari. 

Berjalan sampai tiba di tempat saya menyebrang kemarin harinya, hingga selesai dengan waktu menunjukkan pukul 1 siang lewat. Kemudian siap gabung sama teman lagi untuk jalan ke Merlion Park.





Memanfaatkan sinyal Wi-Fi untuk berkomunikasi, maka kami janjian di stasiun Esplanade. Saya kembali ke stasiun Dhoby Ghaut untuk berganti ke jalur kuning, sampai di sana  menunggu teman di salah satu cafe, sambil mengganjal perut dengan roti sandwich sebagai makan siang.

Teman saya akhirnya datang, kemudian bergegas jalan keluar menuju Merlion Park. Dari info kerabat pacarnya teman saya, maka dari stasiun ini yang paling dekat menuju ke sana. Kami berjalan dan bertanya petugas kebersihan, lalu diarahkan untuk berjalan kaki ke salah satu arah, dan terlihatlah Patung Merlion dari ujung jembatan yang kami jalani.

Seperti biasa kami berfoto2 satu sama lain, di Merlion Park ini cukup ramai sama wisatawan. Kami tidak terlalu lama di sana karena cuaca cukup panas. Nah ada yang unik di sini, pacarnya teman saya sudah stay selama beberapa minggu, katanya tiap hari selalu hujan. Tetapi di dua hari itu cuaca sangat panas, tidak turun hujan sama sekali. Yah sedikit bangga bercanda di depan mereka, kalau kedatangan saya tepat waktu, dalam hati bersyukur mendapat cuaca yang baik. :D




Tujuan kami selanjutnya adalah Marina Bay Sands, karena teman saya itu gatal ingin memasuki kasino-nya. Jalannya cukup jauh karena terletak di seberang, jadi harus jalan memutar. Pada saat berjalan terdapat satu spot untuk menulis apa saja di balon yang disediakan. Oh iya teman saya pada hari itu ulang tahun, jadi memang sengaja dia merayakannya di sana. Waktunya bertepatan dengan liburan yang sudah saya siapkan, jauh hari sebelum rencana bertemu di sana muncul.



Ketika sampai di Marina Bay Sands, kesan yang muncul tidak berbeda dengan Mal lain. Untuk masuk ke kasino bisa gratis, kenapa? Karena kami warga asing, hanya tinggal menunjukkan paspor, saja lain halnya dengan warga lokal yang diharuskan membayar. Di dalam kita bisa minum gratis, lumayan untuk mengeringkan dahaga, karena air mineral yang saya bawa sudah habis. :D


Setelah puas berkeliling dan menikmati singkat suasana luar ruangannya, waktu menunjukkan pukul 4 lewat dan saya selesai. Kami berpisah di salah satu Mal dekat stasiun MRT, kembali ke Bugis untuk mengambil tas.

Ketika sudah mengambil tas maka waktu sudah menunjukkan pukul 6 sore. Tiba-tiba saya langsung ingin bergegas, untuk bergerak cepat kembali ke terminal Larkin di Malaysia. Dari Bugis saya ke City Hall untuk pindah jalur merah kembali ke stasiun Kranji.  Jelang pukul 7 malam saya mengambil bus ke Larkin, kali ini saya naik bus Causeway Link.

Seperti biasa sesuai prosedur kita berhenti di imigrasi Singapura untuk cap keberangkatan, naik bus dan berhenti lagi di imigrasi Malaysia untuk cap kedatangan, serta kembali melanjutkan bus ke termilan Larkin. Pada saat di imigrasi ini hujan turun cukup deras, beruntunglah saya mendapatkan cuaca yang baik pada saat liburan. :D

Jadi tuntas sudah saya liburan singkat belum genap 2 X 24 jam di negara Singapura. :D